Angkernya Hutan Larangan Gunung Ciremai

Kuningan, 7 Desember 2018. Hutan larangan adalah suatu area yang tidak boleh sembarangan orang memasukinya. Hutan ini digolongkan bukan berdasarkan "vegetasi" atau bentang alam maupun secara "geografis", tetapi berdasarkan 'nilai sakral' yang diyakini oleh masyarakat setempat. Bagi mereka yang percaya, di hutan larangan terdapat 'pamali' atau pantangan yang tak boleh dilanggar seperti berkata kotor. Sebab bagi yang melanggar, akibatnya kontan diterima saat itu juga. Seram juga ya sobat?

Area hutan ini juga dipercaya hanya bisa dimasuki dengan cara yang berbau 'mistis' karena merupakan tempat keramat dimana roh 'Karuhun' (nenek moyang, red) bersemayam. SobatCiremai, hutan larangan yang dimaksud ialah Gunung Larang. Area ini kebetulan satu hamparan dengan wisata bumi perkemahan #AwiLega dan #CurugCipeutueuy, desa Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat.

"Kalau memasuki Gunung Larang harus meminta izin atau mengucapkan salam dan tidak mengeluarkan kata yang tidak pantas serta merusak alam. Sebab akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan akibat murka penghuninya", ungkap Mbah Kasmadi (65), seorang sesepuh masyarakat setempat saat ditemui kemarin (5/12). Menurut cerita masyarakat setempat memang telah banyak kejadian ganjil menimpa orang yang mengabaikan 'pamali' saat memasuki Gunung Larang.

Seperti cerita Dodi (47) yang pernah mengalami kejadian aneh tiga tahun lalu saat mendampingi penelitian mahasiswa Institut Pertanian Bogor (#IPB) di Gunung Larang. "Waktu itu saya tak sengaja mengucapkan sesuatu yang kurang baik sehingga kami tersesat cukup lama di Gunung Larang. Sungguh aneh, padahal wilayah itu tidak terlalu luas. Tapi untungnya datang pertolongan dari seorang pengelola wisata Curug Cipeuteuy", tutur Dodi menceritakan kejadian yang menimpanya (6/12). Mbah Kasmadi menambahkan cerita, konon di hutan larangan pernah berdiri kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan #Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin Prabu Jambangan yang memiliki seorang 'Abdi Dalem' cantik jelita, Nyi Mas Larang namanya.

Kecantikan Nyi Mas Larang telah terkenal ke pelosok negeri bahkan hingga para pangeran dari kerajaan lain seperti pangeran dari kerajaan #TalagaManggung, #SumedangLarang dan #SaunggalahKuningan. Para pangeran itu mencoba melamar Nyi Mas. Namun entah mengapa Nyi Mas selalu menolak lamaran mereka. Akibatnya, para pangeran bersitegang memperebutkan dirinya. Sang Prabu mencoba menengahi konflik tersebut dengan menyelenggarakan sayembara 'adu jajaten' (pertarungan, red). Sabda raja, pemenang sayembara berhak menikahi Nyi Mas. Kemudian para pangeran mengeluarkan seluruh "elmu panimu, jampe pamake" (ilmu dan mantra kesaktian, red) sehingga terjadi pertarungan sengit. Akhirnya Patih Kebo Bule dari kerajaan Sumedang Larang keluar sebagai juara. Namun anehnya, Nyi Mas menolak mentah-mentah sang juara sayembara. Tentu saja, Patih Kebo Bule murka dan mengamuk di istana.

Menyaksikan kejadian itu, Nyi Mas merasa jengah lalu berwasiat, "Lebih baik aku 'ngahiang' beserta seluruh keraton daripada terjadi pertumpahan darah lagi". Benar saja, tiba-tiba keraton beserta isinya raib. Tak lama munculah mata air yang mengalir begitu jernih. Lalu Patih Kebo Bule yang amat sangat kecewa berbalik badan kembali ke kerajaannya di Sumedang. Sejak saat itu, tempat tersebut dinamai Gunung Larang.

SobatCiremai, cerita tadi mengisyaratkan dimana dan kapanpun kita berada mesti berperilaku sopan kepada apapun dan siapapun. Satu lagi, kita juga tak perlu memperebutkan hal yang belum tentu baik untuk kita. So, cerita Gunung Larang ialah kearifan lokal dalam upaya menjaga kelestarian alam gunung Ciremai. [teks & foto © Gandi - BTNGC | 122018]

 

Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini