Budidaya Kepiting Bakau Jadi Pilihan

Pulau Pramuka, 20 November 2020. Setelah sekian purnama menunggu, kegiatan pelatihan budidaya kepiting bakau (Scylla spp.) yang telah direncanakan sejak awal tahun akhirnya bisa terselenggara pada tanggal 14 s.d 15 November 2020. Pelatihan diikuti 20 orang peserta yang berasal dari kelompok nelayan Panggang Sejahtera dan petugas taman nasional. Kegiatan ini merupakan salah satu program dari kerjasama antara Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu dengan PT. Nusantara Regas.

Peningkatan kesejahteraan anggota Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera yang merupakan mantan pengguna jaring muroami menjadi latar adanya upaya budidaya kepiting bakau dengan cara pembesaran. Budidaya kepiting bakau dinilai dapat menjadi alternatif mata pencaharian. Implementasi budidaya kepiting bakau akan diwadahi dalam skema Kemitraan Konservasi berupa pemberian akses untuk pemanfaatan tradisional sumber daya perairan terbatas untuk jenis tidak dilindungi.

Hamparan mangrove yang ada di SPTN wilayah III Pulau Pramuka  dinilai berpotensi  tinggi menjadi area budidaya kepiting bakau. Pengujian atas sifat fisik kimia air di area mangrove ini dilakukan melalui Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Hasil pengujian menyatakan bahwa kadar keasaman, kadar salinitas, suhu, kandungan nitrit nitrat dan bahan organik sudah sesuai baku mutu untuk kegiatan budidaya kepiting bakau.

Dalam pembukaan acara ini, Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Badi’ah, S.Si., M.Si. meyemangati para peserta untuk mengikuti pelatihan dengan baik agar dapat menjalankan kegiatan pembudidayaan kepiting sebagai alternatif mata pencaharian yang bernilai ekonomis tinggi. Lurah Pulau Panggang, Pepen Kuswandi, S.So. ikut berpartisipasi sebagai narasumber. Dalam penyampaian materinya mengenai Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir, beliau menekankan karakter nelayan Kepulauan Seribu yang ulet, positif dan tangguh serta militan harus siap menyambut kesukesan dengan menangkap semua peluang yang ada di depan mata. Kegagalan merupakan hal biasa yang harus disikapi dengan perubahan dan adaptasi, tidak mudah menyerah dan pesimis

Pakar perikanan dan kelautan dari IPB, yaitu Dr. Syamsul Bahri Agus dan Dr. Yuni Puji Hastuti menjadi pembicara dan pengajar kunci dalam pelatihan ini. Dr. Syamsul Bahri Agus menyampaikan materi mengenai Kesesuaian Lokasi, Manfaat dan Peluang Bisnis Kepiting Bakau sebagai alternatif tantangan mata pencaharian nelayan, sedangkan Dr. Yuni Puji Hastuti menyampaikan materi mengenai budidaya menggunakan sistem aquasilviculture. Antusiasme peserta semakin meningkat pada sesi praktek budidaya dengan metode konvensional, pemberian pakan serta penghitungan bobot kepiting.

Pelatihan ini menghasilkan demplot berisikan kepiting bakau berjumlah 200 ekor usia 30—40  hari yang akan dipelihara oleh para nelayan dengan sistem piket. Pemberian pakan dilakukan selama lebih kurang 2 bulan sampai ukuran kepiting bakau siap panen. Kematian kepiting harus dicatat secara cermat pada blanko.

Para nelayan harus cermat menjalankan demplot ini untuk mengetahui kesesuaian pakan, gangguan yang timbul selama pemeliharaan serta hal-hal lainnya agar nelayan mendapatkan pembelajaran terbaik (best practice) selama kegiatan pemeliharaan kepiting bakau di demplot. Disinilah jiwa militan zaman now diperlukan karena akan melihat sejauh mana ketangguhan para nelayan menghadapi permasalahan yang timbul selama pemeliharaan kepiting di demplot budidaya kepiting.

Sumber : Alinar, S.Hut. dan Yuniar Ardianti - Penyuluh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini