Eksplorasi Gua Berbasis Masyarakat

Kedamin, 11 September 2017. Tim Eksplorasi Goa Bentarum bertolak menuju Desa Tanjung Lokang. Desa dengan luasan 795,31 km2 ini terletak di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) tepatnya di zona khusus lingkup pengelolaan Bidang PTN Wilayah II Kedamin.

Desa ini memiliki goa-goa bekas dihuni leluhur mereka atau lebih dikenal dengan tembawang. Karena memiliki ikatan sejarah maka goa ini sangat dikeramatkan oleh mereka.

Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum mengakomodir goa-goa tersebut dalam satu zona religi TNBK. Pihak Adat Suku Dayak Punan Hovongan tidak mengijinkan sembarang orang memasuki goa-goa tersebut.

Dari data RPTN Taman Nasional Betung Kerihun tahun 2000 s/d 2025 ditemukan ±50 goa yang belum tergali potensi secara maksimal. 

Tim eksplorasi goa Bentarum yang terdiri dari empat orang Polhut dan dua orang PEH juga melakukan konsolidasi dengan pihak adat dan desa untuk bekerja bersama melakukan eksplorasi potensi goa-goa di sekitar Desa Tanjung Lokang.

Hal ini disambut baik oleh pihak adat dan Desa Tanjung Lokang dengan mengikutsertakan 11 orang warga lokal dalam kegiatan eksplorasi ini. Dari komposisi ini terlihat bahwa antusias masyarakat untuk mengetahui potensi wisata di daerah mereka cukup besar.

Tim Eksplorasi goa Bentarum juga mengikutsertakan dua orang tim pendamping di bidang speleologi (pergoaan) dan dendrologi (flora), serta satu orang anggota Mapala Universitas Tanjung Pura. Mereka adalah A.B Rodhial falah (praktisi speleologi komunitas karra Indonesia, jakarta), Yoga Budi Handoko (PEH di BKSDA Kalbar), dan Stefanus Bobby (anggota mapala UNTAN). 

Yoga Budi Handoko memiliki kemampuan spesialisasi di bidang dendrologi, dalam kegiatan ini Yoga akan mengidentifikasi flora-flora unik yang ada di dalam goa. Stefanus Bobby adalah anggota mapala dari fakultas kehutanan Universitas Tanjung Pura. Keikutsertaan Bobby sebagai tindak lanjut kerjasama kemitraan UNTAN dengan BBTNBKDS. Sedangkan Rodhial akan mengidentifikasi hal-hal berkaitan dengan pergoaan dan karst yang berada di zona religi Desa Tanjung Lokang. 

Tren tempat wisata di alam (back to nature) saat ini sedang digandrungi oleh masyarakat, sebagian besar dari wisatawan saat ini mencari lokasi yang instagramable atau gambar bisa di share dan populer di media sosial. Tren tersebut ternyata juga disadari oleh masyarakat di Desa Tanjung Lokang.

Mereka mengharapkan potensi wisata di Desa Tanjung Lokang dapat dikembangkan sesuai dengan tren saat ini. Salah satu keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain adalah potensi goa karst. Masyarakat lokal pernah membuat beberapa video klip lagu dengan bahasa Punan Hovongan menggambarkan alam di tempat mereka tinggal.

Dalam beberapa video klip berlatar goa-goa di sekitar Desa Tanjung Lokang untuk mempertontonkan keindahan alam di Tanjung Lokang yang masih belum tersingkap (dapat dilihat di link https://youtu.be/7X1gVMxNqT8) .

Berangkat dari ide yang muncul di tengah masyarakat inilah, tim Balai Besar TNBKDS yang dipimpin oleh Ahmad Gozali tertantang untuk mengeksplorasi potensi goa di Desa Tanjung Lokang. Tim berencana melakukan eksplorasi selama 12 hari ke goa-goa yang memiliki potensi wisata.

Menurut Daniel salah seorang warga lokal, terdapat satu span di dekat goa bulit yang sering didatangi hewan-hewan dan rangkong. Daniel mengatakan sering juga burung-burung mandi di span tersebut. Hal itu yang dipandang Daniel sebagai atraksi yang mungkin tidak bisa ditemui di tempat lain.

Data yang akan dihimpun oleh tim adalah lokasi sebaran goa, pemetaan lorong goa, identifikasi fauna dan flora, serta interaksi masyarakat sekitar dengan goa. Dalam buku karangan Hanang Samodra yang berjudul “Nilai Strategis Kawasan Kars di Indonesia, Pengelolaan dan Perlindungannya” terdapat tiga kelas goa yaitu kawasan karst kelas I, kawasan karst kelas II, dan kawasan karst kelas III.

Kawasan karst I berfungsi sebagai penyimpanan air bawah tanah secara permanen dengan ciri mempunyai jaringan goa dan sungai bawah tanah, dengan segala keanekaragaman speleotem dan benda bersejarah di dalamnya, serta mempunyai kepentingan bagi perkembangan ilmu pengetahuan geologi, arkeologi, speleologi, biologi dan lain-lainnya. Yang kedua adalah kawasan karst kelas II yang berfungsi sebagai pengimbuh air bawah tanah dengan ciri mempunyai jaringan goa dan aliran sungai bawah tanah yang sudah tidak aktif, tetapi memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Tipe yang terakhir adalah kawasan karst Kelas III dengan ciri di luar dua tipe sebelumnya.

Sebulan sebelum diberangkatkan tim sudah melakukan berbagai persiapan baik fisik, mental, administrasi dan teori.. Beberapa tehnik pengambilan data di presentasikan dan dilatihkan oleh Ahmad Gozali. Tehnik yang diulas antara lain tehnik interpretasi peta topografi untuk pendugaan lokasi, tehnik SRT (Single Rope Tehcnique) untuk survei goa, tehnik penggunaan alat kompas dan klinometer dalam pemetaan lorong goa, tehnik idenfikasi flora dan fauna dengan target fauna dan flora yang unik dan endemik. Latihan fisik intensif dua kali sehari dilakukan seminggu sebelum pemberangkatan.

Arahan dari Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, “Kepada semua anggota tim survey goa, saya mengucapkan selamat jalan. Semoga perjalanan aman, lancar, sukses menjalankan tugas dan selamat hingga kembali nanti. Buat check list lagi terkait peralatan dan logistik, pastikan tidak ada yang tertinggal. Bawa back up jika diperlukan. Dokumentasi sangat penting sehingga usaha yang dilakukan tidak sia-sia (bukan hanya foto selfie). Tidak perlu terburu-buru dalam pengambilan data, maksimalkan pengambilan data dengan pembagian tugas yang tepat ke seluruh anggota tim. Antisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi baik terkait kondisi alam maupun maslah-maslah non teknis. Ketua tima agar memastikan terget yang akan dicapai dapat diselesaikan. Evaluasi setiap hari kegiatan yang sudah dilaksanakan Salam untuk para pendukung kegiatan ini.”

Johnny Lagawurin, Kepala Bidang PTN Wil. II Kedamin menambahkan ”tim harus bisa berinteraksi positif dengan Bapola Desa Tanjung Lokang, lakukan pendekatan sosial ke masyarakat sehingga dukungan dapat mengalir ke kegiatan ini. Kegiatan ini akan menjadi entry point untuk ekspedisi kelanjutan nantinya. Saat ini yang menjadi sasaran adalah goa-goa yang berada di zona religi maka untuk kelanjutannya goa-goa di zona tradisional yang akan menjadi targetnya".

Selamat bertugas dan bereksplorasi di lapangan, untuk menguak potensi goa yang ada di kawasan TN Betung Kerihun, khususnya yang terletak di zona religi.

Sumber : Bidang PTN Wil. II Kedamin Balai Besar KSDA Betung Kerihun dan Danau Sentarum 

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini