Rafflesia arnoldii, sang puspa langka di belantara SM Isau-Isau

Kamis, 24 Oktober 2019

Lahat, 23 Oktober 2019 - Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di hutan tropis Sumatera oleh seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles, sehingga tumbuhan ini diberi nama sesuai sejarah penemunya yakni penggabungan antara Raffles dan Arnold. Terdapat 33 spesies Rafflesia di dunia dan 14 jenis diantaranya tumbuh di Indonesia dimana 11 jenis tumbuh di Pulau Sumatra.

Banyak orang mengira bahwa Rafflesia arnoldii hanya tumbuh di Provinsi Bengkulu namun kabar gembira datang pada Bulan Agustus 2019 ketika terdeteksi terdapat 9 kuncup bunga Rafflesia muncul di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau . Hal  ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan karena penemuan ini merupakan penemuan yang pertama dan membuktikan bahwa kawasan SM Isau-Isau  yang merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumatera Selatan ini adalah habitat puspa langka Rafflesia.  Setelah beberapa waktu dalam rangkaian observasi, pada Bulan Oktober 2019 dapat dipastikan bahwa Rafflesia yang ditemukan merupakan spesies Rafflesia arnoldii atau padma raksasa yang merupakan tanaman khas dan langka  yang endemik Pulau Sumatra.

Rafflesia arnoldii memiliki satu bunga terdiri dari lima kelopak besar, tebal dan kasar yang berwarna oranye atau merah cerah pekat dan berbintik-bintik berwarna putih. Pada saat bunga mekar, diameternya dapat mencapai 70 hingga 110 cm dengan tinggi mencapai 50 cm. Padma raksasa atau Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit obligat yang tumbuh pada batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Spesies Raflesia yang lainnya juga memiliki inang yang sama. Apabila inang mati maka Rafflesia juga akan mati. Kuncup-kuncup bunga terbentuk di sepanjang sela-sela batang dengan masa pertumbuhan bunga dapat memakan waktu sampai 9 bulan dan masa mekar sekitar 5-7 hari, kemudian bunga raflesia akan layu dan mati.

Tingginya laju deforestasi, kebakaran hutan, serta makin menurunnya area hutan  alam di Indonesia menjadi ancaman serius bagi kelestarian species Rafflesia di Indonesia khususnya di Pulau Sumatra. Selain itu, ancaman juga datang dari ketidakpahaman masyarakat tentang Rafflesia yang memicu tidakan pengrusakan maupun pengambilan putik bunga raflesia untuk dimanfaatkan sebagai obat tradisional merupakan ancaman tersendiri yang mempercepat laju kepunahan padahal Rafflesia tidak terbukti memberikan manfaat kesehatan. 

Sudah selayaknya kita menjaga kelestarian SM Isau-Isau agar Rafflesia arnoldii yang merupakan puspa langka ini terhindar dari kepunahan.

 

Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan

Penulis & Gambar : Pungky Nanda Pratama (Kader Konservasi BKSDA Sumsel), Ferianto (TPHL BKSDA Sumsel)

Berikan rating untuk artikel ini

Average Rating: 5

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini