Senin, 24 Februari 2025 BBKSDA Sumatera Utara
Medan, 24 Februari 2025. Bela negara adalah tanggung jawab seluruh rakyat, tanpa memandang usia, gender, atau profesi. Tidak hanya militer, seluruh warga negara memiliki peran dalam mempertahankan kedaulatan bangsa sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing, termasuk dalam melindungi kekayaan alam Indonesia dengan sistem perlindungan terintegrasi sebagai upaya konservasi dari ancaman kejahatan satwa liar, kehutanan, dan kelautan.
Yayasan Naluri Fauna Indonesia (Nafas) bersama Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara mengadakan Seminar Nasional Bela Negara 2025 secara luring (offline) dan daring (online) zoom meeting di Aula lantai 3 Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Jalan Sisingamangaraja Medan, Kamis (20/2/2025).
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci alquran, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan pembacaan kode etik pencinta alam. Kemudian sambutan Ketua Rayon 1 Mapala PTMSI Nasrul Maulana, Ketua Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) Badar Johan, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Sumut Hamdan Sukrawi,ST., MT, dan dibuka secara resmi oleh Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si.
Ketua Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) Badar Johan mengatakan seminar ini mengangkat tema tentang Peran Teknologi Smart Patrol, Pemetaan, dan Sistem Perlindungan Terintegrasi, Dalam Upaya Konservasi Bagi Mahasiswa dan Komunitas Pencinta Alam di Seluruh Indonesia. Kegiatan ini disponsori TFCA Sumatera, di suport oleh Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI), Forum Harimau Kita, Forum Orangutan Indonesia (FORINA), Recyclo, The Wildlife Whisperer Of Sumatera, Forum Konservasi Gajah Indonesia dan Sumatera Tropical Forest Journalism.
Hadir dalam seminar ini Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. sebagai Keynote Speaker. Kemudian Ketua Bidang III Konservasi Indonesia’s FoluNetSink 2030, Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. dan Direktur Wildlife Conservation Society Indonesia Program, Dr. Noviar Andayani, M.Sc. sebagai penanggap dalam seminar. Ada lima pemateri, antara lain Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pengelolaan Kawasan Konservasi pada Direktorat Konservasi Kawasan Ditjen KSDAE, Dian Risdianto S.P., M.Si., Wakil Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Wisnu Sukmantoro, Program Manajer Forum Orangutan Indonesia (FORINA) Fajar Saputra, Analis Konservasi Kawasan Muhammad Asad, dan Koordinator Lapangan Rhino Protection Unit (RPU) YABI Wilayah TNBBS Heri Pasiman, yang dimoderatori Okta Puspita dari Forum Harimau Kita (FHK).
Seminar ini turut dihadiri lebih kurang 150 orang staf UPT Teknis KSDAE melalui luring maupun daring. Peserta lainnya berasal dari berbagai kalangan, termasuk perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Kader Konservasi Alam, Mapala UMSU, Sispala PALH SMAN 2 Medan, NGO/CSO, kader Muhammadiyah, aktivis lingkungan, mahasiswa dan kelompok pencinta alam dari Medan yang mengikuti secara luring.
Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. dalam paparan materi pembuka seminar mengatakan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat. Peningkatan peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan yang berdaya dan berhasil guna, serta dikembangkan melalui peningkatan sadar konservasi, pendidikan dan penyuluhan.
Narasumber pertama, Wisnu Sukmantoro, dengan materi Pengantar Pencinta Alam Dalam Konservasi, mengatakan bahwa saat ini peran kegiatan konservasi oleh kaum muda cukup masif, kegiatan konservasi kebanyakan ke arah riset, penjagaan kawasan konservasi dengan target alam tetap lestari. Kemudian pemateri berikutnya Dian Risdianto, SP., M.Si yang membahas tentang Pengantar Keanekaragaman Hayati dan Konservasi, mengatakan terdapat tiga prinsip dasar konservasi, Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan, Pengawetan Keanekaragaman Jenis dan Ekosistemnya dan Pemanfaatan Secara Lestari. Ketiga sistem itu saling berkesinambungan, melalui perencanaan inventarisasi, penataan kawasan (zona & wilayah kerja) dan rencana pengelolaan perlindungan dengan patroli rutin, penangan konflik, pengendalian karhut, dan sebagainya yang melibatkan kerjasama kemitraan dan pemberdayaan masyarakat.
Narasumber dan moderator
Materi selanjutnya, Pengantar Keunggulan Pemetaan Dalam Melaksanakan Kegiatan di Lapangan oleh Fajar Saputra, menjelaskan pemetaan telah berkembang dari gambar di batu hingga sistem digital yang kompleks. Pemetaan Semakin berperan dalam berbagai bidang, termasuk konservasi, mitigasi bencana, perencanaan kota, dan eksplorasi luar angkasa. Saat ini terdapat teknologi pemetaan konservasi satwa liar melalui Global Position System (GPS), Sistem Informasi Geografis (GIS), Penginderaan Jauh (Remote Sensing), Pemodelan Spasial, SMART Patrol dan Citizen Science Mapping.
Dengan teknologi ini mendapat manfaat penelitian berupa evaluasi zona taman nasional, identifikasi area prioritas untuk monitoring, identifikasi area ekowisata dan evaluasi program restorasi. Mahasiswa dan kelompok pencinta alam memiliki peran penting dalam konservasi berbasis pemetaan, mulai dari pengumpulan data di lapangan hingga analisis dan advokasi berbasis GIS.
Kemudian materi Pengantar Keunggulan Tools Smart Patrol Dalam Melaksanakan Kegiatan di Lapangan, yang disajikan oleh Muhammad Asad, mengatakan Platform Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) terdiri dari serangkaian perangkat lunak dan alat analisis yang dirancang untuk membantu para konservasionis mengelola dan melindungi satwa liar dan tempat-tempat liar. SMART dapat membantu menstandarisasi dan menyederhanakan pengumpulan, analisis dan pelaporan data, sehingga memudahkan informasi penting untuk sampai dari lapangan ke pembuat keputusan.
Materi terakhir tentang Pengantar Peran Program Integrited Protektion Sistem (IPS) oleh narasumber Heri Pasiman, mengatakan Integrated Protection System (IPS) merupakan sebuah sistem perlindungan dan pengamanan yang terintegrasi untuk menghasilkan respon yang efektif dan tepat sasaran.
Dalam sesi penanggap Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. mengatakan data dan informasi tidak ada gunanya jika tidak digunakan oleh kepala balai untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan potensi dan mengajak masyarakat kerjasama memahami problem sosial dalam menjaga alam. Selain smart patrol ada metode berbeda untuk mengetahui mode solusinya dimana kita bisa berhasil masyarakat juga dapat manfaat melalui program kemitraan konservasi.
Dr. Noviar Andayani, M.Sc. mengatakan pengelolaan dan perlindungan kawasan konservasi yang berisi keanekaragaman hayati yang tinggi dan bermanfaat bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia terus didukung oleh semua pihak. Teknologi baik pengumpulan dan penyimpanan visualisasi data, maupun memakai smart patrol tidak akan bermanfaat jika tidak ada komponen SDM nya. Mahasiswa dan kelompok pencinta alam menjadi ujung tombak generasi muda yang akan melanjutkan upaya-upaya konservasi yang sudah dilakukan sebelumnya.
Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang juga hadir dalam seminar ini, mengatakan sebagai generasi muda kader konservasi alam harus dapat melakukan bela negara salah satunya dengan aktif berkegiatan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan. Seminar ini sangat bermanfaat karena kita juga bisa ikut berkolaborasi terlibat dalam kegiatan patroli hutan bersama petugas lapangan. Nurhabli juga berterima kasih kepada narasumber, panitia dan peserta yang hadir dalam kegiatan ini, semoga dari seminar ini ada kelanjutan materi praktek lapangan patroli hutan, sehingga ilmu yang didapat bisa langsung di aplikasikan ke lapangan.
Kegiatan di tutup dengan foto bersama dan pembagian soevenir tumblr unik kepada penanya terpilih melalui luring dari perwakilan Sispala PALH SMAN 2 Medan dan penanya terpilih melalui daring perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan.
Sumber : Nurhabli Ridwan ( GRAS / Kader Konservasi Alam )- Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Foto by : Yayasan Nafas
Berikan rating untuk artikel ini
Average Rating: 5