Peringatan Hari Orangutan Internasional 2019 di Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu

Putussibau, 22 Agustus 2019 - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) bersama dengan WWF Indonesia, TFCA Kalimantan, Forclime dan Putussibau Art Comunity (PAC) menggelar peringatan International Orangutan Day 2019 di Kapuas Hulu. Kegiatan yang diberi tema “International Orangutan Day Campaign 2019” adalah konsep kegiatan penyadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya dengan konsep penyampaian materi di luar ruangan sekaligus menyertakan aspek pendidikan lingkungan hidup dan  pendidikan karakter. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah Memberikan dan meningkatkan kesadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya.

Rangkaian kegiatan telah disiapkan oleh panitia mulai dari Radio talkshow, Kampanye Konservasi Orangutan di beberapa sekolah, talkshow di beberapa cafe di Putussibau dan konser betang. Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari dari tanggal 19 s/d 24 Agustus 2019 di Putussibau dan sekitarnya.

Kegiatan pertama yang dilakukan dalam rangka International Orangutan Day Campaign 2019 yaitu Radio talkshow di Rasika milik Pemerintah Daerah Kapuas Hulu gelombang 103.4 Fm yang pembicaranya terdiri dari BBTNBKDS, TFCA Kalimantan, WWF Indonesia, Forclime dan PAC. Talkshow ini membahas tentang potensi, ancaman dan upaya konservasi orangutan di Kalbar.

Kepala Balai Besar yang diwakili Sarwono, S.Hut., menyatakan bahwa Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum dan Kapuas Hulu merupakan habitat Orangutan Pongo Pygmaeus Pygmaeus. Data tahun 2018 diperkirakan terdapat 714 individu Orangutan di Taman Nasional Betung Kerihun serta 118 individu di Taman Nasional Danau Sentarum dan masih banyak lagi yang tinggal di hutan lindung dan hutan produksi yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk itu kampanye terhadap perlindungan habitat dan populasi orangutan ini sangat diperlukan dalam mendukung keberadaan Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum dan Kapuas Hulu.

Sementara Manajer Landscape Hulu Kapuas WWF-Indonesia Hermas Rintik Maring  menambahkan Ancaman yang paling utama saat ini bagi populasi orangutan di Kalimantan Barat (KalBar) adalah degradasi dan fragmentasi habitat. Dimana berdasarkan hasil kajian bahwa kawasan hutan di KalBar terus berkurang sebesar 116.172,77 ha pertahun. Hal ini mengakibatkan beberapa kawasan yang menjadi habitat Orangutan menjadi terpisah-pisah. Berkurangnya luasan hutan juga berdampak pada pakan orangutan.

Untuk itu perlu adanya kampanye sebagai bentuk usaha mengajak masyarakat serta memperkenalkan kepada Generasi muda untuk lebih peduli lagi terhadap keberadaan Orangutan dan diharapkan kesadaran masyarakat dunia terhadap lingkungan terutama ekosistem hutan tropis yang merupakan habitat Orangutan, sehingga dapat mendukung peningkatan populasi orangutan.

 

Sumber:  Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini