Melacak Robot Dan Rawing Di Ujung Kulon

Berbicara tentang Banten tentu tak lepas dari ikon provinsi tersebut, yaitu badak Jawa bercula satu, yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang. Tidak lengkap rasanya bertualang ataupun sekadar berwisata ke Banten apabila tak menyempatkan diri mengunjungi Ujung Kulon untuk mengenal hewan langka tersebut.

Maka tim detikXpedition pun menjelajahi hutan TNUK selama empat hari pada 30 Mei hingga 2 Juni 2017. Perjalanan ke TUNK merupakan rangkaian dari ekspedisi Banten wilayah selatan yang sempat tertunda. Pada bagian sebelumnya, kami singgah ke beberapa daerah terpencil di Lebak dan Pandeglang untuk memotret kondisi terakhir infrastruktur Banten selatan serta kehidupan masyarakatnya.

Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) adalah satu dari lima jenis badak. Di Indonesia, badak masih banyak dijumpai di hutan-hutan Aceh, Lampung, Bukit Barisan, dan Pulau Kalimantan. Namun badak Jawa di Ujung Kulon memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya yang bercula satu di dunia.

Sejak 1992, kawasan Ujung Kulon ditetapkan sebagai taman nasional untuk melindungi habitat badak Jawa. Pada tahun itu juga, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, dan Budaya (United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) menetapkan Ujung Kulon sebagai warisan dunia. Hal itu karena badak sungguh langka dan masuk kategori sangat terancam (critically endangered) dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Agar badak lebih terlindungi, Balai TNUK bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia membangun pagar Java Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Pagar ini terbentang dari Kampung Cilintang Cimahi, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, hingga Blok Bangkonol, Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, sepanjang 8,130 kilometer.

Belum lama ini muncul informasi dari warga bahwa ada dua badak dewasa yang melintas keluar dari pagar JRSCA di kawasan selatan Ujung Kulon. Badak itu diidentifikasi bernama si Robot dan si Rawing. Keduanya terlihat 'berjalan-jalan' di Kampung Cegog, yang langsung berbatasan dengan lahan hutan lindung TNUK.

Dulu di kawasan selatan banyak perambah hutan. Sejak ada pagar JRSCA, ada kemungkinan badak merasa aman dan kembali ke kawasan hutan di Cegog. “Itu hebatnya badak, nyoba-nyoba pagar disentuh. Masuk kepalanya, diangkat itu beton pagar, dia masuk. Lalu satu lagi dia masukkan kakinya ke sling, sampai putus itu sling. Dia keluar pagar, tapi selalu balik lagi,” imbuh Mamat.

Informasi mengenai pergerakan badak di Cegog juga didapat World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon. WWF sudah lama memulai program konservasi badak Jawa untuk membantu TNUK dalam menjaga kelangsungan hidup hewan tersebut. Selain menjaga populasi badak, WWF Ujung Kulon juga membuat program pemberdayaan masyarakat dan melakukan konservasi terumbu karang untuk menjaga kelestarian taman nasional.

Social and Economy Coordinator WWF Indonesia Dwi Munthaha melontarkan ide kepada kami untuk melakukan pelacakan terhadap dua individu badak yang bergerak ke Cegog itu. Kebetulan, daerah Cegog kurang 'terurus' dibanding, misalnya, daerah Semenanjung Ujung Kulon. Semenanjung Ujung Kulon juga sudah dikenal para wisawatan. “Jadi sekalian melihat kondisi masyarakat di sana (Cegog). Juga pengawasan terhadap lahan konservasi TNUK,” tuturnya.

Mamat juga mengakui kawasan selatan Ujung Kulon kurang terpantau. Sementara di belahan barat TNUK sudah terpasang ratusan camera/video trap, tidak demikian halnya di Cegog. “Silakan teman-teman kalau mau ke sana. Di sana rencananya akan dibuat wisata juga. Mudah-mudahan bisa ketemu, karena dua badak itu cenderung jinak dan nggak nyerang,” Mamat menambahkan.

Saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Selasa, 30 Mei 2017, itu, cuaca di Pandeglang sangat cerah. Setelah berbincang-bincang dengan Kepala Balai TNUK, kami bersiap-siap menuju Cegog, kampung di pesisir selatan Banten yang berjarak sekitar 88 kilometer ke arah tenggara Labuan. Sudah pasti kami tidak akan bisa masuk ke hutan dan melacak keberadaan badak itu sendirian.

Kami ditemani Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit (RMU/RHU) Balai TNUK Mochamad Syamsuddin. Tim WWF juga turun dengan kekuatan penuh. Mereka antara lain Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang lebih dikenal dengan panggilan Iwan Podol, Community Organizer WWF Ujung Kulon Project Oji Paoji, serta Dwi Munthaha atau Imung.

Berdasarkan informasi dari Kepala Balai TNUK Mamat Rahmat, jumlah badak Jawa di Ujung Kulon pada 2015 tinggal 63 ekor. Kabar menggembirakan datang pada 2016. Tahun lalu itu termonitor ada empat kelahiran baru badak. “Ditambah yang baru lahir tahun 2016 ini, maka menjadi 67 ekor,” kata Mamat ketika kami temui di kantor Balai TNUK, Jl Perintis Kemerdekaan No 51, Labuan, Banten, 30 Mei lalu.

Habitat badak Jawa menempati lahan seluas 40.000 hektare dari total 122.956 hektare kawasan TNUK. Badak lebih banyak hidup di area hutan lindung di Semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di bagian selatan dan timur lebih sedikit. Guna memantau badak, Balai TNUK memasang sekitar seratus camera/video trap di sejumlah titik di Semenanjung Ujung Kulon. Hal itu untuk mengetahui populasi, karakteristik, serta penyebaran badak.

Setelah melakukan rapat koordinasi di Balai TNUK, menggunakan tiga mobil, pada pukul 14.00 WIB rombongan berangkat menuju Kampung Cegog. Rombongan menempuh perjalanan kurang-lebih lima jam dan tiba pada pukul 19.30 WIB. Memang perjalanan lama karena, begitu kami masuk Kecamatan Cimanggu, infrastruktur jalan mulai rusak.

Lebih-lebih ketika memasuki Desa Tugu dan Desa Rancapinang, aspal jalan banyak yang terkelupas. Begitu masuk Rancapinang menuju Kampung Aerjeruk dan Cegog, kondisi jalan lebih parah lagi, nyaris tak beraspal alias hanya tanah dan bebatuan. Tak aneh bila wilayah selatan Ujung Kulon ini kurang terurus dan jarang dikunjungi pelancong, peneliti atau terekspos oleh media.

Setelah berjibaku dengan kondisi jalan yang berat itu, akhirnya rombongan sampai juga di Kampung Cegog. Kami singgah dan menginap di rumah salah satu warga yang menjadi binaan Balai TNUK dan WWF, yaitu Suharya (60). Rumahnya sering dijadikan posko kegiatan. Bersama masyarakat sekitar, kami membahas rencana perjalanan melacak badak esok hari.

Menurut seorang warga Cegog yang disapa Pak Kato dalam pertemuan malam itu, sejak 2015 badak terpantau melintasi pagar JRSCA karena pagar itu belum dialiri listrik. Badak itu sering terlihat di Blok Cisereh. Bahkan, pada April 2017, warga melihat badak di dekat pos pemantauan TNUK. Wah, makin tak sabar rasanya untuk segera menerobos hutan TNUK, melacak jejak-jejak si Robot dan Rawing.

Pertemuan malam itu berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang berat dari Labuan membuat mata kami tak lagi kuasa menahan kantuk. Terlebih, kami harus menyiapkan tenaga untuk kegiatan esok hari. Karena itu, kami pun terlelap di rumah Pak Suhaya, yang masih berbentuk panggung itu.

Selepas salat subuh Rabu, 31 Mei 2017, Tim Spesies dan Habitat dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon Project, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), plus lima warga Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, sudah sibuk. Mereka mengemasi sejumlah perlengkapan ke dalam tas ransel berkapasitas 50 liter.

Rain coat, senter, logistik, termasuk peralatan camera/video trap, tak lupa dibawa. Selain mencari jejak Robot dan Rawing, dua badak Jawa yang dikabarkan keluar dari batas pagar JRSCA di Cegog, tim akan melakukan pemetaan bakal lokasi pemasangan camera/video trap. Juga akan dilakukan penanaman sejumlah bibit pohon pakan badak di lahan eks Kampung Aermokla, yang kini masuk kawasan Taman Nasional.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, setelah Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang disapa Iwan Podol, memberikan pengarahan, tim pun meninggalkan Kampung Cegog. Tim yang beranggotakan 10 orang, termasuk anggota tim detikXpedition M. Rizal dan kamerawan Tri Aljumanto, ini berangkat menuju hutan lindung Ujung Kulon bagian selatan dengan berjalan kaki.

Kami melewati perumahan penduduk yang berbentuk rumah panggung dan jalan berbatu menuju luar kampung. Sungai dan pantai kami lewati hampir 800 meter menuju Pos Resor TNUK Cegog. Di sini kami mampir untuk berkoordinasi dengan petugas pos TNUK sejenak sebelum menuju pos JRSCA dan TNUK di eks Kampung Aermokla, yang berjarak sekitar 8 kilometer melewati hutan lindung.

Di Pos Resor TNUK Cegog pada April 2017, petugas yang berjaga melihat penampakan badak Jawa dari jarak 30 meter. “Dia makan rumput dua bulan lalu pas di situ. Jaraknya 30 meter dari sini. Kalau nggak salah badak itu yang namanya si Robot,” terang Kato, salah seorang petugas JRSCA, kepada rombongan.

Bahkan, menurut Kato, pada tahun 2000 ada seekor badak Jawa jauh melintas hingga ke Kampung Aerjeruk. Untungnya, badak itu tak merusak tanaman kebun atau merusak sawah milik warga. “Badak tahu makanannya sendiri. Nggak semua jenis pohon dimakan. Ke sawah juga nggak nginjak. Badak mungkin tahu itu sawah,” ujar Kato sambil terbahak.

Bagi kami, tim detikXpedition, tentu menjadi harapan bisa melihat secara langsung sosok hewan langka yang bernama latin Rhinoceros sondaicus itu. Tapi kami juga cukup waswas bagaimana bila berhadapan langsung dengan makhluk semipurba tersebut.

Setelah pamit kepada petugas pos jaga, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan. Kami melewati area padang rumput yang luas sepanjang sekitar 300 meter sebelum menyusuri pantai Cegog. Setelah 1 kilometer menyusuri pantai yang dipenuhi bebatuan itu, khususnya sebelum Tanjung Sodong, kami kembali mengambil arah memasuki kawasan hutan. Ini merupakan titik awal kami akan menyusuri jejak badak hingga ke dalam hutan yang ditumbuhi pepohonan sekunder.

Kondisi jalan memang tak seekstrem kalau kita mendaki gunung. Namun beberapa kali kami harus melewati medan menanjak atau menurun, dengan tanah yang lembek. Belum lagi akar-akaran pepohonan yang merambat, yang membuat kami harus hati-hati melangkah. Bila salah langkah, bisa saja kami terjerembap karena kaki tersangkut akar di tanah itu.

Tak terasa lebih dari 1 kilometer berjalan kaki, tiba-tiba Iwan Podol, yang berjalan di depan, berhenti sejenak. Ia membungkuk, lalu berjongkok, mencukil sesuatu dari tanah menggunakan ranting pohon. “Nah, ini kotoran badak! Ini kayaknya sudah lama, sudah menyatu dengan tanah. Ini juga ada tapak badaknya. Ini yang dulu diperkirakan muncul di sini tanggal 18 Mei lalu,” ujarnya.

Bukan hanya itu. Sekitar 100 meter kemudian, ditemukan juga pohon-berukuran-sedang tumbang. Setelah diselidiki, ternyata itu jenis pohon bisoro, yang memang menjadi makanan favorit badak Jawa. Di area itu memang banyak ditumbuhi pohon bisoro, jahe-jahean, dan citepus, yang juga menjadi makanan badak. Sejumlah tapak kaki badak, berupa tiga cabang jari, dengan ukuran besar masih terlihat jelas di sekitar area itu.

Lalu Iwan Podol meminta Oji Paoji (Community Organizer WWF Ujung Kulon Project), Mochamad Syamsuddin (Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit Balai TNUK), serta dua petugas JRSCA, Kato dan Madsupi, mencatat dan mendokumentasikan temuan itu. Jumlah daun dan ranting yang dimakan badak, jenis pohon, ukuran pohon, serta titik koordinatnya pun dicatat.

Penelusuran jejak badak terus dilanjutkan menuju Blok Cisereh. Wilayah ini memang dikenal oleh para penjaga hutan sebagai habitat badak Jawa di bagian selatan Ujung Kulon. Memang jumlah badak di sini bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan habitat badak Jawa yang berada di Semenanjung Ujung Kulon (bagian utara atau barat). Di kawasan ini suasana memang sedikit lebih gelap. Maklum, sinar matahari terhalang pepohonan besar yang menjulang tinggi.

Sekitar pukul 13.00 WIB, kami tiba di Blok Cisereh. Saat itu langkah tim terhenti lagi karena menemukan sebuah kubangan berisi lumpur dan air berwarna cokelat susu berdiameter sekitar 2 meter. Madsupi dan Koto, petugas Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), pun mengambil sebatang kayu dan memasukkannya ke kubangan. Setelah diukur, ternyata kedalaman kubangan sekitar 60 sentimeter.

“Kayaknya ini sering dipakai badak untuk berendam dan mendinginkan suhu badannya. Tapi kelihatannya yang suka main di sini juga babi hutan,” tutur Iwan Podol, yang diamini Masdupi dan Koto.

Tim diminta tak sembarangan membuang sisa makanan, puntung rokok, atau sekadar buang air kecil di lokasi itu. “Ya, memang badak rada sensitif. Kalau lingkungan sudah tercemar oleh kita, badak nggak bakal ke sini lagi untuk berkubang. Dia akan mencari lokasi baru,” Iwan menambahkan.

Sudah seperti jadi standard operating procedure (SOP), terhadap setiap temuan dilakukan pencatatan, diambil foto, serta dicatat titik koordinat lokasinya. Semua data langsung diunggah ke telepon seluler berbasis Andoid atau GPS Garmin Monterra 650. Setelah itu, kami meninggalkan lokasi tersebut. Sekitar 200 meter, tim menemukan pohon bisoro ukuran kecil yang tumbang.

“Ini baru banget, nih. Kayaknya belum sehari atau subuh tadi dia di sini, robohkan pohon buat makan. Kayaknya badaknya lagi lapar bener. Nah, lihat juga jejaknya, ini khas si Robot,” kata Iwan setelah memperhatikan kotoran dan jejak badak itu.

Tim tampaknya semakin senang dan bersemangat untuk menemukan sosok badak, entah itu si Robot entah si Rawing. Posisi kami bertaut sekitar sembilan jam dengan keberadaan badak yang diperkirakan berumur 30-40 tahun itu. Dari jejak tapak kaki badak yang berukuran 26-27 sentimeter, berat badan mamalia raksasa ini diperkirakan 2 ton.

Iwan pun meminta semua anggota tim lebih waspada dan berhati-hati. Maklum, bisa saja badak itu kembali lagi dari rerimbunan pepohonan yang memang tak terlihat. “Mudah-mudahan belum jauh si Robot. Dia pasti masih berada di sekitar sini. Mudah-mudahan sih sudah ke dalam pagar JRSCA,” kata Iwan sambil mengajak tim melanjutkan perjalanan.

Ketika menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan besar dan ilalang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh teriakan Madsupi, yang menemukan jejak kaki badak lagi. Ketika dihampiri, jejak itu memang tampak masih anyar. Bahkan hampir semua anggota tim mencium bau yang, menurut Iwan Podol, merupakan bau khas tubuh badak. Ia kembali mengingatkan tim untuk berhati-hati. Tim detikXpedition pun diminta mendekati pohon besar. Ia meminta, kalau memang menemukan badak, tim sebaiknya memanjat pohon.

“Ini dekat bener, nggak jauh. Hati-hati dan waspada semuanya,” ujar Iwan. Namun Kato menimpali bahwa jejak badak itu sepertinya mengarah ke pagar JRSCA. “Mudah-mudahan dia sudah kembali ke dalam pagar konservasi,” Iwan menambahkan seraya meminta tim langsung menuju pagar JRSCA, yang jaraknya kurang-lebih 1 kilometer.

Hampir satu jam berjalan, kami baru menemukan pagar JRSCA setinggi 1,5 meter yang terbentang dari daerah Aermokla sampai Bangkonol, Cegog. Pagar terbuat dari tiang beton yang dilengkapi dua sling baja. “Nah, si Robot melewati pagar ini. Diangkat betonnya, sling diinjek sampai ambruk. Tapi sudah diperbaiki dua bulan lalu,” ujar Kato.

Karena hujan mulai turun, kami mempercepat langkah menuju posko JRSCA, yang masih berjarak 2 kilometer lagi. Tapi kami harus memutar karena, bila mengikuti pagar, kondisi jalan setapak berupa turunan dan tanjakan yang curam. Tak jauh kami menemukan menara pantau yang baru dibangun Balai TNUK. Menara ini berfungsi sebagai tempat pantau petugas hutan. Baru sekitar 500 meter dari kejauhan kami melihat area lahan luas eks persawahan Kampung Aermokla.

Persis di akhir ujung pagar itu, terlihat dua bangunan posko TNUK dan JRSCA. Jangan dibayangkan itu bangunan permanen dari material batu bata dan semen. Dua gubuk panggung itu terbuat dari bambu, sementara atapnya dari terpal plastik berwarna biru. Di depannya persis mengalir Sungai Aermokla yang berair sangat jernih. “Nah, kita istirahat dulu di sini. Mungkin kita malam ini menginap di ‘Hotel Aermokla’ ha-ha-ha…,” canda Iwan.

Tak menyia-nyiakan waktu, tim detikXpedition langsung merebahkan diri melepas rasa letih dan pegal kaki. Lima warga Kampung Cegog tiba lebih dulu, yakni Suharja (67), Herman, Ajat, Fandi, dan Udin. Sebagian sibuk memasak air dan makanan. Sebagian membenahi posko. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, tinggal satu jam lagi kami berbuka puasa Ramadan.

Karena hujan semakin deras dan suasana semakin gelap, tim pun memutuskan mengecek keesokan harinya. Akhirnya tim memastikan, hari itu badak yang entah itu si Robot entah si Rawing, sudah kembali ke dalam pagar JRSCA. Tak lama, suara azan dari radio transistor berkumandang. Semua tenggelam dalam nikmatnya minuman hangat teh dan kopi. “Walau nggak lihat badak secara langsung, minimal lihat jejaknya yang terbaru,” ucap Aljumanto, salah satu anggota tim detikXpedition.

Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini