Kenali Status Waspada Merapi dan Potensi Kehati TNGM di Pertemuan Rutin WCF Yogyakarta

Yogyakarta, 15 April 2019. Selama ini banyak komunitas pemerhati lingkungan serta hidupan liar (wildlife conservation) yang muncul dan bersinergi di lingkup D.I Yogyakarta.  Diantaranya para dosen maupun mahasiswa universitas di lingkup D.I Yogyakarta, serta para citizen scientist yang tertarik dan kerap melakukan penelitian di bidang konservasi, lingkup D.I Yogyakarta dan sekitarnya. 

Kemudian muncullah ide untuk menjadikannya sebagai ajang bertukar informasi dan belajar bersama tentang konservasi, terutama terkait dengan hidupan liar (wildlife conservation).  Sehingga hadir forum yang dinamakan Wildlife Conservation Forum (WCF) Yogyakarta.  Forum ini mengadakan pertemuan sebulan sekali, diawali pada bulan November 2018, melalui pertemuan awal di kampus Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta.   Pertemuan selanjutnya di BKSDA DIY, WRC, Bioteknologi Universitas Atmajaya, dan Biologi UIN Sunan Kalijaga. Kemudian untuk pertemuan April, bertempat di BTN Gunung Merapi.

Pada hari Sabtu, 13 April 2019, dilaksanakan pertemuan rutin WCF di Joglosemar, Kalikuning Park, Kecamatan Cangkringan.  Dalam kesempatan ini, hadir sekitar 40 orang pemerhati konservasi dan hidupan liar dari berbagai komunitas. Pertemuan dibuka langsung oleh Ibu Kepala Balai TN Gunung Merapi, Ir. Pujiati, sekaligus berkenalan langsung dengan seluruh anggota forum.  

Pada kesempatan kali ini, disampaikan materi tentang Setahun Status Waspada Merapi oleh Agus Budi Santosa, Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).  Disampaikan bahwa status waspada Merapi hampir setahun berlalu, sejak Mei 2018, freatik kemudian diikuti pembentukan kubah lava pada 18 Agt.2018, walau supply akibat desakan magma kecil, namun kegempaan internal masih ada sehingga statusnya masih waspada.  Periode letusan kali ini mengikuti periode tahun 1872 karena mempunyai magnitude yang sama. Setelah terjadi freatik dan terbentuk kubah lava, erupsi bersifat efusif. Disampaikan pula bahwa erupsi kali ini tidak membahayakan, bahkan bisa menjadi potensi wisata yang menarik, yaitu hunting foto lava pijar pada malam hari. Diinfokan juga bahwa terdapat 5 pos pengamatan Merapi yang bernilai historis untuk edukasi kegunungapian Merapi.

Kemudian sesi kedua disampaikan materi tentang Pengelolaan Kehati TNGM oleh Irwan Yuniatmoko, PEH BTNGM.  Disampaikan data-data yang terkait dengan jenis Elang Jawa, burung pemangsa (raptor) lainnya, Lutung Jawa, serta perjumpaannya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.  Juga disampaikan adanya bukti keberadaan Macan Tutul dari cakaran juga faesesnya, namun belum dapat terdeteksi oleh camera trap yang dipasang pihak BTNGM.  Disampaikan juga tentang keberadaan dan keanekaragaman jenis satwa liar yang ada di TNGM.

Untuk menutup acara, dilaksanakan diskusi intern terkait pengelolaan dan manajemen WCF untuk beberapa waktu ke depan, diantaranya pelaksanaan pertemuan rutin bulan selanjutnya, serta agenda lainnya yang terkait.

***

Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi 

 

 

 

 

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini