Cerita Hari ke-7 Ekspedisi Lolobata 2017

Sofifi, 18 September 2017. Sore hari, tepat tanggal 15 September salah satu anggota tim Ekspedisi Lolobata yang tergabung dalam tim dokumentasi keluar kawasan taman nasional dan akan kembali ke Jakarta. Rencana ijin tersebut memang sudah tercantum dijadwal ekspedisi karena alasan pekerjaan. Anggota tim tersebut adalah Bapak Dany Prabowo. Setelah sampai di Sofifi (16/09), Pak Dany menyatakan bahwa kondisi tim sangat baik dan antusias serta kondisi kawasan taman nasional masih rimba alam. Tak lupa Pak Dany juga membawa titipan dari Pak Harley B. Sastha yang merupakan seorang travel writer berupa tulisan perjalanan sampai hari ke-4 di Ekspedisi Lolobata Tahun 2017.

Berikut tulisan perjalanan dari Pak Harley :
Gerimis menyambut awal perjalanan tim ekspedisi lolobata 2017. Sepuluh menit meninggalkan entri poin, lintasan penjelajahan sudah memasuki memasuki jalur sungai Dodaga dengan total lebar sekitar 10-15 meter. Kami terus berjalan melintasi dan menyeberangi sungai. Sepanjang aliran sungai setiap anggota tim mengumpulkan dan mengidentifikasi berbagai temuan. Fenomena dan atraksi alam serta satwa dan tumbuhannya.

Sekitar tiga jam perjalanan, kami melihat atraksi alam berupa air terjun kembar yang tersembunyi di balik kerimbunan pohon. Kedua air terjun ini lokasinya bersebelahan dengan air terjun yang terlihat dari luar. Mempunyai tinggi sekitar 5 meter, air yang mengalir pada air terjun kembar tersebut melintasi batuan karst muda. Memperlihatkan atraksi alam yang menarik.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 17:00 WIT. Kami memutuskan untuk mendirikan camp. Selain evaluasi perjalanan pada hari pertama, tidak banyak yang kami lakukan saat itu.

Hari berikutnya, 12 September 2017, karena hujan turun sejak pagi, jadwal perjalanan kami kembali mundur beberapa jam. Namun, anggota tim, tetap berusaha mengumpulkan dan mengindentifikasi flora dan fauna disekitar areal camp.

Perjalanan menuju camp kedua dari camp sebelumnya, kami tempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Seperti sehari sebelumnya, jalur yang kami lalui masih menyusuri Sungai Dodaga. Dalam perjalanan kami menemukan satu rumah suku Tobelo Dalam. Tetapi, penghuninya sedang tidak ditempat. Menurut salah satu porter kami yang juga berasal dari suku Tobelo Dalam, mereaka kemungkinan sedang berburu atau sudah berpindah tempat. Karena pada hingga saat ini sebagian dari mereka hidupnya masih nomaden.

Camp kedua berada disekitar percabangan sungai. Landskap disekitarnya sangat menarik. Setiap sisi menyajikan panorama yang berbeda. Di camp ini kami menginap dua malam untuk melakukan kegiatan eksplorasi.

Cuaca pada hari ketiga kembali hujan. Lagi-lagi kegiatan eksplorasi menjadi kurang maksimal. Namun, walaupun dalam kondisi gerimis, kami berhasil memetakan air terjun yang lokasinya sekitar 4 kilometer atau 3 jam perjalanan dari camp kedua. Untuk menuju air terjun tersebut, kami berjalan menyusuri anak sungai Dodaga menuju ke hulu.

Air terjun yang oleh masyarakat Tobelo Dalam disebut Sigare-gare Hie ini lokasinya memang tersembunyi. Berada di bawah bukit dan jika di lihat dari atas terhalang oleh tajjuk-tajuk pohon. Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 15 meter ini limpsdsnnys airnya cukup kencang. Namun, terlihat bagus dan menarik.

Bukan hanya air terjun, walaupun tidak banyak, anggota tim lainnya juga berhasil mengumpulkan dan mengidentifikasi beberapa temuan disekitar areal camp.

Masih disekitar camp, kami juga memetakan makam salah kakek buyut dari masyarakat Tobelo Dalam yang juga menjadi porter kami saat ekspedisi. Menurut pengakuannya, kakek buyutnya dimakamkan sekitar tahun 1971 yang meninggal saat usia sekitar 80 tahun. Setidaknya informasi ini menunjukkan bahwasannya di dalam belantara Halmahera telah ada kehidupan sejak lama.

Memasuki hari keempat, 14 September 2017, menuju camp selanjutnya, kami menyusuri sungai homo-homo yang juga merupakan anak sungai Dodaga. Makin masuk ke dalam hutan terlihat lebih rimbun. Diawal-awal perjalanan cuaca cukup baik. Matahari bersinar cukup terik. Namun, selepas jam 12 siang waktu setempat, hujan kembali turun. Sebelum tiba di camp ketiga, selepas sungai kami mendaki menuju puncak bukit kemudian turun kembali menuuju sungai homo-homo hingga tiba di camp dengan total waktu perjalanan dari camp kedua sekitar hampir 5 jam.

Walaupun kondisi cuaca kurang bagus, ssetidaknya hingga hari keempat, sepanjang perjalanan tim ekspedisi berhasil melihat beberapa jenis burung yang terbang melintas maupun yang bertengger di atas pohon. Diantaranya, Rangkong, Nuri Ternate, Nuri Bayan, Kakatua putih, Elang Bondol, Julang Papua dan sebagainya.

Untuk kupu-kupu menurut Yunus dari TN Bantimurung Bulusaruang yang juga ikut serta dalam ekspedisi , hingga hari keempat telah ditemukan 53 jenis kupu-kupu. Dari jumlah tersebut 41 telah menjadi spesimen (salah satunya seekor kupu-kupu endemik kawasan Wallace dimana Maluku Utara masuk di dalamnya). Sisanya 12 ekor tidak tertangkap – termasuk 3 jenis yang dilindungi.

Untuk potensi goa, menurut Feny dari Mapala Silvagama, sayangnya belum terlihat. Batuan karst juga masih sedikit yang terlihat. Kalaupun ada itu juga masih muda. Salah satunya pada dinding air terjun kembar.Batuan jenis andesit lebih banyak terlihat. Salah satu kesulitannya menurut Feny, karena tim memang lebih banyak menyusuri sekitar sungai saja. Harusnya harus lebih banyak memutari kawasan jika ingin mencari goa. Menurut Feny lagi, kalau dilihat dari temuan vegetasi landskap alamnya, kawasan ini sangat kaya. Namun, sayang belum banyak dieksplore lebih dalam.

Dalam ekspedisi ini, jenis capung juga mendapat perhatian penting. Agal dari Indonesia Dragon Fly mengatakan hingga hari keempat, berhasil mendata 20 jenis capung. Namun, yang sudah dalam bentuk spesimen 15 ekor. Dari jumlah tersebut 5 ekor jenis capung jarum yang merupakan endemik Halmahera. Dalam kondisi cuaca yang kurang begitu bagus, jumlah tersebut cukup banyak.

Sekitar 500 meter sebelum tiba di camp tiga, Tyo berhasil meangkap salah satu jenis reptil: Candoya Poulsoni Tasmae dengan panjang 98 cm – lebih panjang sekitar 34 cm dari data terakhir yang telah tercatat dan dibukukan sebelumnya.

Menurut Mahrozi untuk Jenis tumbuhan sendiri yang sudah tercatat sekitar 36 jenis. Baik jenis pohon hingga palm. Sepanjang perjalanan kalau dilihat secara umum kawasan ini sangat kaya. Ada lebih dari 100 spesies jenis flora. Sama seperti anggota tim lainnya, hujan menjadi salah satu kesulitan dalam pengumpulan spesimen untuk tumbuhan.

Melihat hasil yang diperoleh hingga hari keempat, Aep – pimpinan perjalanan tim ekspedisi lolobata 2017, mengatakan cukup baik. Terlebih dengan kondisi cuaca yang kurang bagus. Dimana hujan kadang hampir sepanjang hari turun.

“Alhamdulillah hingga hari keempat ekspedisi, apa yang kita harapkan dan inginkan tepenuhi. Tinggal untuk kedepannya pada beberapa hari terakhir, beberapa informasi lain yang TN Aketajawe Lolobata sampaikan sebelum perjalanan ekspedisi dimulai bisa kita temui”, ujar Aep saat istirahat malam hari di camp tiga.

Tim ekspedisi Lolobata berharap pada hari-hari berikutnya cuaca lebih baik dan berhasil mendata dan mengkoleksi dari temuan-temuan yang sudah ditemukan hingga hari keempat.

Ekspedisi Lolobata 2017 – Tagi Togumua (No Limit Exploring atau Berjalan Tanpa Henti)”.
(Harley B. Sastha – Anggota Tim Ekspedisi Lolobata 2017)

Sumber : Akhmad David Kurnia Putra
Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini