Serunya Pembelajaran Lapangan Bersama BBTN Bentarum di Yogyakarta

Selasa, 22 November 2022 BKSDA Yogyakarta

Yogyakarta, 21 November 2022. Balai KSDA Yogyakarta lakukan pendampingan penguatan kapasitas sumber daya manusia Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dalam rangka Pemulihan Ekosistem dan Wisata Alam Berbasis Masyarakat di Yogyakarta. Pendampingan penguatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum ini dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 17 – 19 November 2022 melalui kunjungan ke 3 (tiga) lokasi pembelajaran yakni Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Paliyan di Gunungkidul terkait pembelajaran pemulihan ekosistem, kawasan wisata alam berbasis masyarakat di Kalibiru – Kulon Progo, dan Tebing Breksi – Sleman.

Pembelajaran lapangan hari pertama dilakukan dengan agenda kunjungan ke kawasan SM Paliyan di Gunungkidul, Kamis (17/11/22). Bertempat di Aula SM Paliyan, sebanyak 14 (empat belas) orang tim dari Balai Besar TaNa Bentarum yang terdiri dari Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (Kabid PTN) Wilayah I Mataso, Kasubag Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan, Kasie PTN Wilayah III Padua Mendalam, Kasie PTN Wilayah V Selimbau dan beberapa staf berkunjung ke SM Paliyan untuk melihat secara langsung lokasi pembelajaran pemulihan ekosistem disana.  

Untuk memberikan gambaran kawasan SM Paliyan yang semula tandus berbatu tanpa vegetasi dan perlahan berhasil dipulihkan ekosistemnya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi secara langsung menyambut dan menjelaskan proses pemulihan ekosistem di SM Paliyan. Semakin memperjelas tahapan pelaksanaan pemulihan ekosistem dari waktu ke waktu, salah satu mitra Balai KSDA Yogyakarta PT Mitsui Sumitomo Insurance Group (MSIG) yang diwakili Manajer Lapangan PT OS Selna Jaya selaku pelaksana lapangan PT MSIG, Gunawan Setiaji, menjelaskan mengenai peranan yang telah dilakukan oleh PT MSIG terkait perjalanan panjang pemulihan ekosistem di SM Paliyan dan komitmennya hingga saat ini untuk terus berusaha mewujudkan SM Paliyan yang menghijau.

Sejalan dengan apa yang disampaikan pihak PT OS Selna Jaya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta menugaskan Kepala Resort SM Paliyan, Siti Rohimah untuk menjelaskan mengenai upaya membangun kembali SM Paliyan melalui konsep Nandur Urip. “Konsep Nandur Urip adalah upaya untuk mewujudkan tanaman yang kita tanam akan dapat tumbuh dan terus hidup, dan hal ini tidaklah mudah karena dalam upaya nandur urip ini diperlukan adanya dukungan dan komitmen tinggi dari 3 unsur yakni pengelola, pemerintah setempat, stake holder terkait lainnya, dan masyarakat sekitar kawasan SM Paliyan. Dengan menanamkan semangat nandur urip tersebut diharapkan masyarakat dan kita semua akan yakin dan optimis bahwa apa yang kita tanam pasti akan berhasil dan tanaman itu mampu tumbuh di kawasan SM Paliyan ini” jelas M. Wahyudi.

Menutup kegiatan pembelajaran pemulihan ekosistem di SM Paliyan ini, dilakukan penyerahan cendera mata dari Balai Besar TaNa Bentarum kepada Balai KSDA Yogyakarta dan PT MSIG serta dilakukan penyerahan kenang-kenangan dari Balai KSDA Yogyakarta kepada tim Balai Besar TaNa Bentarum berupa penyerahan buku-buku terbitan Balai KSDA Yogyakarta yang selanjutnya dilakukan kunjungan lapangan ke lokasi pemulihan ekosistem di blok rehabilitasi eks petak 138 SM Paliyan.

Kegiatan penguatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum hari kedua dilakukan dengan melakukan pembelajaran wisata alam berbasis masyarakat dengan lokasi pembelajaran di Hutan kemasyarakatan (HKM) “Mandiri” Kalibiru. Di kawasan Kalibiru, tim Balai Besar TaNa Bentarum belajar terkait sukses story pengembangan wisata alam berbasis masyarakat di HKM Kalibiru. Untuk pendampingan kunjungan di Kalibiru ini, Kepala Balai KSDA Yogyakarta menugaskan Kepala SKW I, Untung Suripto dan beberapa staf SKW I.

Kunjungan tim Balai Besar TaNa Bentarum ini disambut baik oleh pengelola wisata Kalibiru dan dilakukan pemberian materi serta diskusi terkait pengelolaan Kalibiru. Beberapa poin yang dibahas dalam diskusi tersebut antara lain mengenai sejarah pengelolaan HKM Kalibiru yang dirintis sejak tahun 1995 hingga pengembangan usaha jasa lingkungan saat ini. Peserta penguatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum juga mendapatkan pembelajaran terkait dinamika jumlah kunjungan wisata, permasalahan pengelolaan wisata alam Kalibiru termasuk bagaimana menyikapi kondisi pandemi yang berdampak pada penurunan jumlah pengunjung Kalibiru. Kegiatan pembelajaran di Kalibiru kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan berjalan mengeliling kawasan wisata kalibiru.

Sebelum menutup kunjungan lapangan hari kedua ini, momen kunjungan ke Kalibiru di Kulonprogo juga dimanfaatkan Balai KSDA Yogyakarta untuk mengenalkan salah satu Kelompok Tani Hutan (KTH) Binaan Balai KSDA Yogyakarta. Peserta peningkatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum diajak untuk berkunjung ke KTH Manunggal Karya, salah satu KTH Binaan Balai KSDA Yogyakarta yang ada di sekitar SM Sermo, Kulon Progo. Di sana, peserta peningkatan kapasitas SDM dari BBTNBKDS diperkenalkan mengenai produk yang dihasilkan KTH Manunggal Karya seperti Keripik Kelapa dengan merk Crispa (Crispy kelapa) dan madu klanceng, serta rencana produk selanjutnya yaitu empon empon yang akan diolah menjadi produk minuman seperti teh celup.

Kunjungan ke KTH Manunggal Karya ini juga dimanfaatkan untuk saling bertukar informasi dari Balai Besar TaNa Bentarum terkait keberhasilannya melakukan pemberdayaan lebah klanceng (atau di Kalimantan lebih dikenal dengan lebah kelulut), dan produk lebah kelulut Balai Besar TaNa Bentarum ini ternyata telah memperoleh sertifikat produk dari cagar biosfer, SPP-IRT, dan hasil uji kandungan madu kelulut.

Sebagai penutup kegiatan peningkatan kapasitas SDM Balai Besar TaNa Bentarum di hari ketiga dilakukan kunjungan ke kawasan wisata Tebing Breksi, Sambisari, Prambanan, Sleman. Kegiatan pembelajaran di Tebing Breksi dimulai dengan penyampaian materi Perjalanan Panjang Pengelolaan Tebing Breksi dari Tebing yang dulunya ditambang dan sekarang menjadi obyek wisata populer.

Di waktu lampau, Tebing Breksi ditambang oleh masyarakat sejak sekitar tahun 1980 an, akan tetapi pada tahun 2014 penelitian menunjukkan bahwa tebing breksi ini merupakan endapan vulkanis dari erupsi gunung api purba formasi Semilir sekitar 30-36 juta tahun lalu. Berpijak pada hasil penelitian tersebut, pemerintah selanjutnya melarang penambangan di kawasan Tebing Breksi dan menetapkan Tebing Breksi sebagai kawasan geoheritage sesuai SK Badan Geologi No.1157.K/73/BGL/2014 tanggal 2 Oktober 2014 tentang Penentuan Cagar Alam Geologi DIY.

Penetapan Tebing Breksi yang semula merupakan kawasan penambangan menjadi kawasan geoheritage menjadi polemik dan mendapatkan penolakan karena disebabkan alasan faktor ekonomi dan ketergantungan masyarakat penambang terhadap Tebing Breksi. Proses panjang yang dilalui pengelola Tebing Breksi pada akhirnya mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat yang semula merupakan masyarakat penambang dan pelan-pelan beralih pada kegiatan wisata.

Jika pada tahun 1995 kawasan sekitar Tebing Breksi ini termasuk dalam Desa Tertinggal di Kabupaten Sleman,  pada tahun 2015 mulai terlihat adanya peningkatan PAD sejak ditetapkan sebagai kawasan geowisata. Terjadinya pandemi covid di tahun 2020 – 2021 berdampak pada penurunan drastis pendapatan wisata di Tebing Breksi.

Wisata Tebing Breksi menyuguhkan Relief Wayang, Patung Naga, Amphiteatre, Taman Tebing Breksi, Balkondes Sambirejo Resto dan Homestay, Watu Tapak Camphill, Jeep Wisata, Edukasi dan Spot Foto. Untuk pemandu khusus terkait bebatuan, Pengelola bekerjasama dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Puncak kunjungan (Peak Season) terjadi pada bulan April - Juli (musim liburan sekolah), dan khusus malam tahun baru jumlah pengunjung mencapai hingga diatas 15.000 pengunjung. Di tahun 2017, Wisata Tebing Breksi memperoleh penghargaan Anugerah Pesona Indonesia Kategori “Tujuan Wisata Baru Terpopuler”.

Kegiatan pembelajaran di Tebing Breksi ini ditutup dengan kunjungan lapangan dengan melakukan sesi foto di beberapa spot foto Tebing Breksi.

Sumber : Siti Rohimah (Kepala Resort SM Paliyan, Penyuluh Kehutanan Balai KSDA Yogyakarta), Nurrochmah Wisudhaningrum (PEH Balai KSDA Yogyakarta) dan Puji Lestari (PEH Balai KSDA Yogyakarta)

Penanggung jawab berita: Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365)

Kontak informasi: Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)

Berikan rating untuk artikel ini

Average Rating: 0

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini