Belajar Budidaya Madu di KTH Madu Sari Gunungkidul

Yogyakarta, 22 September 2022.  Untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan Balai KSDA Yogyakarta, penyuluh kehutanan Balai KSDA Yogyakarta mendorong KTH binaan yang berada di daerah penyangga Suaka Margasatwa (SM) Paliyan dan Suaka Margasatwa Sermo melakukan studi banding ke KTH Madu Sari. Tiga KTH binaan Balai KSDA Yogyakarta meliputi KTH Manunggal Karya, KTH Raket Manunggal, dan KTH Sodong Makmur mengikuti studi banding budidaya lebah madu di KTH Madu Sari di Padukuhan Ngrandu, Kalurahan Katongan,Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, hari Rabu (21/9/22).

Studi banding ke KTH Madu Sari merupakan bagian dari pendampingan KTH binaan Balai KSDA Yogyakarta untuk meningkatkan kapasitas budidaya lebah madu yang telah dibudidayakan kelompok agar dapat berjalan optimal. Studi banding diawali dengan sambutan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Untung Suripto, mewakili Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi. Dalam sambutannya, Untung Suripto menyampaikan tujuan studi banding dan output yang ingin dicapai dari pelaksanaan studi banding. Sementara itu Sugeng Apriyanto, selaku ketua KTH Madu Sari menyambut baik kehadiran KTH binaan Balai KSDA Yogyakarta dan bersedia memberikan transfer informasi terkait pengelolaan budidaya lebah madu yang telah berhasil dikembangkan KTH Madu Sari. Selain pemaparan materi, para peserta juga diajak melakukan praktek pemanenan lebah madu dan pemindahan koloni lebah madu dari bumbung yang terbuat dari bambu ke dalam bejana tanah liat.

Kepala BKSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi, mengungkapkan bahwa studi banding ini dapat memberikan inspirasi positif bagi KTH binaan Balai KSDA Yogyakarta. “Melalui studi banding kita berharap agar KTH binaan Balai KSDA Yogyakarta dapat mengatasi persoalan terkait budidaya lebah madu yang saat ini tengah dilakukan KTH Manunggal Karya. Kegiatan studi banding ini dapat menjadi media pembelajaran bersama dan sekaligus menjadi inspirasi bagi kelompok lainnya untuk melakukan pengembangan bentuk pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi, mengingat potensi dan peluang pemasaran lebah madu masih terbuka lebar.” kata Muhammad Wahyudi. Lebih lanjut Muhammad Wahyudi menambahkan bahwa budidaya lebah madu sebagai salah satu bentuk upaya penyadartahuan ke masyarakat secara umum, mengingat budidaya lebah madu berkaitan dengan penyadaran masyarakat untuk konservasi melalui penanaman berbagai jenis tanaman sumber pakan lebah.

KTH Madu Sari merupakan kelompok binaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bantul yang dibentuk tahun 2005. KTH Madu Sari ini bergerak di bidang budidaya lebah madu dengan jenis lebah yang dikembangkan antara lain lebah Lanceng/Kelulut/Galo-galo (Trigona spp). Di tahun 2016, KTH Madu Sari yang diketuai Sugeng Apriyanto berhasil menjadi perwakilan DIY yang mendapatkan juara I tingkat nasional untuk kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM). Hal tersebut yang selanjutnya mendorong kelompok – kelompok lainnya untuk melakukan studi banding di KTH Madu Sari.

Untuk menambah daya tarik kegiatan studi banding, KTH Madu Sari telah mengemas kegiatan studi banding dalam bentuk eduwisata. Budidaya lebah madu tidak hanya sebatas menghasilkan produk madu saja, tetapi juga dapat menjadi ajang pelatihan bagi kelompok lain untuk sharing ilmu.

Kegiatan ditutup dengan pertukaran produk yang dihasilkan KTH binaan Balai KSDA Yogyakarta dengan KTH Madu Sari. Pada kesempatan ini, KTH Manunggal Karya memberikan produk Crispa dan KTH Madu Sari memberikan madu dan jamu instan.

Sumber : Siti Rohimah – Penyuluh Kehutanan BKSDA Yogyakarta

Penanggung jawab berita:  Kepala Balai KSDA Yogyakarta- Muhammad Wahyudi (HP 0852-4401-2365)

Kontak informasi:  Call center Balai KSDA Yogyakarta (0821-4444-9449)

 

 

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini