Pohon Tampui (Baccaurea Macrocarpa), Sulit Dicari Jarang Ditemukan

Minggu, 30 Juli 2017

Pohon Tampui merupakan endemik hutan tropis seperti hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Di Taman Nasional Tesso Nilo pohon Tampui dapat dikatakan jenis pohon kebanggan masyarakat asli melayu seperti masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga. Buahnya enak untuk dimakan rasanya mirip-mirip buah Rambutan namun daging lebih tebal dari Rambutan. Kata Sutan (masyarakat asli)  menjelaskan. Sekitar sepuluh tahun yang lalu pohon Tampui masih mudah untuk ditemukan di dalam kawasan TNTN. Bahkan ketika berbuah masyarakat berebut mencari kehutan, ada yang dijual maupun hanya untuk sekedar dimakan bersama keluarga.

Kini, Pohon Tampui sudah sulit dicari, jarang ditemukan. Saat berpatroli pada Kamis tanggal 27 Juli 2017, saya bersama kawan-kawan beruntung. Tanpa disengaja Sutan yang juga tenaga honor SPW I LKB melihat pohon Tampui, dengan cepat Sutan memanggil saya untuk mendekat dan mengatakan "Ko nan namonyo Tampui tu". Karena memang pernah saya pesan pada Sutan kalau melihat pohon Tampui tolong dikasih tahu.

Langkanya pohon Tampui ditemukan saat ini disebabkan perambahan. Okuvasi lahan menjadi kebun sawit menghilangkan tanaman eksotis ini. Apalagi sejak dulu sampai sekarang memang belum ada masyarakat lokal yang tertarik untuk membudidayakan pohon Tampui. Akibatnya pohon Tampui terancam punah dan terlupakan.

Meskipun pohon Tampui yang kami temukan ini sedang tidak berbuah namun saya cukup puas dan bersyukur. Setidaknya saya bisa mengenal langsung bentuk sesungguhnya dari pohon Tampui ini. Tidak lama memang saya berkesempatan menikmati dan mendalami keunikan dari pohon Tampui saat itu karena perjalanan patroli kami yang masih panjang pada hari itu. Sambil berdo'a dalam hati saya berucap mudah-mudahan dilain waktu menemukan pohon Tampui disaat sedang berbuah. Aamiin Ya Mujibassailiin.

Oleh: Ahmad Gunawan (BTN. Tesso Nilo)

Berikan rating untuk artikel ini

Average Rating: 5

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini