Brigdalkarhut BTNRAW Berhasil Turunkan Luas dan Kejadian Kebakaran di Wilayah Kab. Bombana dan Konawe Selatan

Konawe Selatan, 22 Agustus 2019. Setiap tahun saat musim kemarau, Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (BTNRAW) selalu dihadapkan pada permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Hal ini tidak terlepas dari tingkat kerawanan kebakaran kawasan TN Rawa Aopa Watumohai yang demikian tinggi. Berdasarkan peta kerawanan kebakaran hutan kawasan TNRAW pada tahun 2018, tingkat kerawanan kebakaran di kawasan ini dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelas kerawanan, yaitu rendah dengan luas 39.637,5 Ha (60,05%), sedang dengan luas 6.559,16 Ha (9,94%), dan sangat tinggi dengan luas 19.806,54 Ha (30,01%). Salah satu upaya pengendalian kebakaran kawasan TN Rawa Aopa Watumohai yang dilakukan yaitu membentuk Brigdalkarhut pada tahun 2018. Secara umum dengan adanya Brigdalkarhut ini, penanganan karhutla di TNRAW dalam satu tahun terakhir dinilai berhasil. Hal ini ditandai dengan menurunnya luas area yang terbakar dan jumlah kejadian kebakaran jika dibandingkan dengan tahun lalu. Berdasarkan data pada agutus 2018 terdapat sekitar 670,94 hektare (ha) yang terbakar dengan 32 kali kejadian kebakaran, selanjutnya menurun menjadi 25 kali kejadian kebakaran dengan total luas 156,82 ha sampai bulan Agustus 2019 (427,8 %) di wilayah Kab. Bombana dan Konawe Selatan.

Kepala Balai TNRAW, Ali Bahri, S.Sos, M.Si menyatakan, petugas brigdalkarhut bisa menjadi garda terdepan dalam mencegah api agar tidak meluas. ''Petugas Brigdalkarhut akan segera melakukan pemadaman dini jika menemukan kejadian kebakaran karena mereka terjun langsung ke lokasi dan sudah dibekali diri dengan alat pemadam ringan berupa pompa punggung yang berfungsi untuk pemadaman awal'' imbuhnya.

Dalam upaya mengoptimalkan sistem pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (BTNRAW) memperkuat sinergitas  bersama TNI, Polri, Pemda dan stakeholder terkait.   Adapun upaya dalam pengendalian karhutla ini dituangkan dalam strategi dan rencana aksi yang melibatkan pihak – pihak terkait antara lain Pemda Bombana, Polres Bombana, Pabung 1314 Buton, BNPB kab. Bombana, Damkar kab. Bombana, Manggala Agni Daops Tinanggea dan PT. Jhon Lin Batu Mandiri.

Kepala Balai TNRAW menyatakan bahwa dalam upaya pengendalian kebakaran hutan ini, BTNRAW bersama dengan stakeholder terkait telah menyusun dan melakukan Strategi dan Rencana Aksi pengendalian kebakaran hutan antara lain yaitu pemetaan lokasi rawan kebakaran hutan, deteksi dini kebakaran hutan melalui CCTV, sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat, pemasangan media sosialisasi secara berkala seperti baliho, banner, leafleat / pamplet sebagai kampanye larangan membakar ditaman nasional, Apel siaga dan simulasi pengendalian Karhutla, membuat pos pantau untuk memudahkan pemantauan di lokasi rawan kebakaran, membuat embung sebagai sumber air untuk pemadaman kebakaran  di musim kemarau dan melakukan patroli terpadu bersama dengan stakeholder terkait. Selain itu, yang tidak kalah penting dalam upaya pengendalian karhutla ini yaitu pelibatan masyarakat sekitar kawasan dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA).

Pada kesempatan lain, Bupati Bombana H. Tafdil SE, MM. mengapresiasi upaya dalam sinergitas pengendalian Karhutla di Wilayah Kab. Bombana yang rawan kebakaran yang melibatkan stakeholder terkait.

"Asap dari kebakaran hutan yang terjadi merupakan salah satu penyebab tergangunya polusi udara kita, bahkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, bukan hanya untuk manusia namun keanekaragaman hayati yang ada dalam hutan, untuk itu keberhasilan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, memerlukan kerjasama yang baik melalui sinergisitas pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, dengan tidak melupakan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat." tutur H.Tafdil SE, MM.

Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini