Pemberdayaan Masyarakat “Tirai Madu Lembanato”

Ampana, 19 November 2020. Selang satu bulan sejak pencairan bantuan pemberdayaan masyarakat tahap pertama, kelompok Desa Binaan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean  “Tirai Madu Lembanato” mulai melakukan aktivitas berupa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Latar belakang penamaan Tirai Madu ini didasari oleh fokus kegiatan kelompok yang terbagi ke dalam dua bagian, yaitu pembuatan kerajinan tirai yang berasal dari pelepah sagu serta pengambilan madu hutan secara tradisional. Kedua fokus kegiatan tersebut, pada akhirnya dirangkum menjadi satu kesatuan kelompok pemberdayaan masyarakat bernama Kelompok Tirai Madu Lembanato, yang secara administrasi berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Lebiti, tepatnya di Desa Lembanato, Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una.

Kelompok ini dimotori oleh dua orang pemeran utama, yaitu Najamudin di bidang kerajinan tirai, sementara Raswin untuk madu hutan. Dimana masing-masing memiliki lima orang anggota yang membantu aktivitasnya. “Kami berterima kasih atas bantuan yang diberikan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean” ungkap mereka saat ditemui di Desa Lembanato pada Jumat 13 November 2020.

Kendala utama yang dihadapi kelompok untuk saat ini adalah sulitnya mendapatkan sarang lebah dikarenakan faktor alam, yaitu curah hujan tinggi yang berdampak pada pergeseran musim bunga pada pohon-pohon di hutan yang erat kaitannya dengan produksi madu. Sementara permintaan konsumen akan madu hutan bisa dikatakan cukup tinggi di masa pandemi COVID-19 saat ini. Madu hutan secara medis dipercaya dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara bagi pengrajin tirai, hingga saat ini dirasa belum menghadapi hambatan dalam proses produksinya.

Produk pemberdayaan Kelompok Tirai Madu Lembanato, saat ini dibandrol Rp 100.000 untuk tirai berukuran 2 x 1,5 m2, sedangkan madu dengan kapasitas 600ml dibandrol seharga Rp 75.000. Harga tersebut merupakan harga produk dengan kemasan apa adanya, dimana untuk tirai hanya diikat tali dan madu hanya dikemas menggunakan botol bekas air mineral. Namun kedepan setelah pencairan bantuan tahap kedua terealisasi, produk-produk tersebut akan dikemas dengan lebih baik.

Harapan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dengan adanya bantuan ekonomi produktif seperti ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan. 

Sumber: Irvan Dali – Kepala SPTN II Lebiti Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini