Prosesi Adat Pra Pembangunan Sanctuary Wallaby Lincah Balai TN Wasur

Kamis, 6 Agustus 2020 - Sekitar pukul 09.30 WIT telah dilakukan persiapan acara Peresmian dan Penyerahan Pengelolaan Suatu Dusun Dalam Wilayah Ulayat Suku Marory Mengey dari Marga Mahuze Kepada Pihak Balai Taman Nasional (TN) Wasur untuk pembangunan sanctuary wallaby yang akan dipergunakan sebagai tempat pembiakan satwa endemik di TN Wasur yaitu wallaby lincah (Macropus agilis). Lebih lanjut, Bapak Yarman, S.Hut., M.P. selaku Kepala Balai TN Wasur didampingi oleh Ibu Putri Cendrawasih, S.Hut., M.P. selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 3 Wasur membicarakan persiapan kegiatan dimaksud bersama dengan Tokoh Adat Suku Marory Men-gey dan Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Suku Marory Men-Gey. Acara peresmian secara adat pra pembangunan sanctuary dimulai sekitar pukul 10.00 WIT yang ditandai dengan persiapan secara adat berupa barang-barang perlengkapan adat dan ritual, memberikan riasan pada wajah Kepala Balai TN Wasur, perwakilan staf serta perwakilan anak-anak Suku Marory. Proses yang paling penting dalam acara ini adalah acara bunuh babi dengan cara memukul kepala babi sebanyak 4 hingga 5 kali hingga babi tersebut mati. Pemukul yang digunakan adalah sebuah kayu yang sudah diberkati secara adat yang ditandai dengan ikatan daun janur kuning di ujung kayu pemukul. Sebanyak 2 ekor babi lokal digunakan sebagai salah satu syarat penting di dalam proses penyerahan hak kelola wilayah dari Pemilik Tanah Ulayat kepada pihak Balai TN Wasur yang disaksikan dan dihadiri oleh para Tokoh masyarakat dan warga Kampung Wasur yang merupakan masyarakat Suku Marory Men-gey. Darah dari satwa babi yang sudah mati beserta pinang, sirih, dan wati dipersembahkan kepada leluhur dengan cara membenamkannya ke dalam lubang di empat penjuru lokasi pembangunan sanctuary wallaby sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

 

Kepala Balai dan Kepala SPTNW 3 Wasur berbincang bersama Ketua LMA dan Tokoh Suku Marory Men-Gey

Seorang Tokoh Masyarakat Suku Marory Men-gey menjelaskan bahwa acara ini bertujuan untuk meminta izin dan permisi kepada para leluhur tanah ini agar dalam proses pembangunan sanctuary nanti tidak menemui kendala dan ke depannya satwa-satwa yang akan dipelihara disini dapat tumbuh berkembang dengan baik atas izin para leluhur disini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kedua ekor babi tersebut akan digunakan dalam acara Huuzz (bahasa Suku Marory) yang bermakna bakar-bakar untuk makan bersama. Masyarakat telah mempersiapkan tumpukan batu dan kayu di atasnya sebagai media untuk memasak kedua ekor babi dengan cara dibakar secara tradisional.

 

Proses bunuh babi

Kepala Balai TN Wasur menyampaikan bahwa segala proses yang berjalan nanti baik saat pembangunan sanctuary dan setelahnya, diharapkan agar warga masyarakat Suku Marory Men-gey memberikan dukungan penuh dan bersama-sama bisa menjaga dan merawat sanctuary dan satwa-satwa yang ada didalamnya nanti. Kepala Balai juga menyampaikan keprihatinannya kepada masyarakat bahwa masih sering dijumpai wallaby-wallaby yang masih diburu dan kemudian diangkut diatas kendaraan roda dua maupun roda empat untuk diperjualbelikan secara komersial. Melihat fenomena yang demikian, Kepala Balai menghimbau kepada seluruh masyarakat agar mulai bersama-sama bergandengan tangan menjunjung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal terutama yang ada pada Suku Marory Men-gey agar dari wilayah ulayat Suku Marory Men-gey ini bisa dipertahankan populasi wallaby, kasuari, dan hewan-hewan lain yang dilindungi oleh negara ini. (EH)

 

Sumber: Balai TN Wasur

Penulis : Eka Heryadi, S.Hut. (Penyuluh BTN Wasur)

Foto : Aprianto, S.Si., M.Sc. (PEH BTN Wasur)

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini