PESONA NAPAL CARIK

Napal Carik merupakan nama yang mungkin terdengar asing dikenal di Propinsi Sumatera Selatan bahkan di Kabupaten Muara Enim yang merupakan tempat keberadaanya. Sebuah tempat yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alamnya saja tetapi terbalut juga oleh budaya masyarakat yang cukup lekat melekat dalam cerita rakyat yang semakin menambah daya tarik Napal Carik itu sendiri. Suara air yang bergemericik (becarik) dengan terjangan air yang menerpa tanah yang keras seperti batu (napal) menjadikan Napal Carik sebagai salah satu air terjun yang wajib untuk dikunjungi. Terletak dalam rimbunnya belantara Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau menjadikan air terjun ini bukan sekedar menawarkan keelokan pesona air terjun dan cerita rakyat yang membalutnya tetapi juga tantangan selama perjalanan menuju air terjun tersebut merupakan sebuah petualangan yang patut untuk dicoba dan pastinya tidak akan terlupakan. Selain Napal Carik, kawasan SM Isau-Isau yang memiliki luasan 16.742,92 hektar ini memiliki potensi keragaman flora dan fauna. Flora didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Fagaceae, dan Lauraceae. Jenis flora yang paling dominan yaitu Meranti (Shorea sp.), Pulai (Alstonia sp.), Durian (Durio sp.), Jelutung (Dyera sp.), Cempedak (Artocarpus teymanii), Kedondong hutan (Santini ablongifolia), Laban (Vitex pubescens), cemara gunung (Casuarina sumatrensis), Sedangkan fauna antara lain Siamang (Hylobates sp), Rusa (Cervus unicolor), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hystrix brachyuran), Babi Hutan (Sus sp.), Kijang (Muntiacus muncak), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Beruk (Macaca nemestrina), Simpai (Presbytis melalophos), Burung Rangkong (Boceros spp.), Burung Enggang (Bucerotidae), Burung Kutilang (Phynonotus goivavier), Burung Murai (Dendrocitta formosae), Burung Punai (Treton bicinctas), Ungko (Hylobates agilis), kucing hutan (Felis bengalensis), kucing besar, elang, macan tutul (Panthera pardus), ayam hutan (Gallus sp).

 Aksesibilitas menuju Napal Carik bisa melalui Desa Muara Emil maupun Desa Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim. Namun untuk menuju ke lokasi air terjun dari desa terdekat dengan kawasan SM Isau-Isau menuju batas kawasan harus menempuh medan yang sulit terutama pada saat musim penghujan dikarenakan jalan setapak untuk melewatinya berupa tanah liat dengan perkerasan batu dibeberapa titik sehingga hanya kendaraan roda dua yang dapat melewati dan itupun terkadang disertai dengan jalan kaki karena lepas rantai, gerigi rantai putus, jalan licin dan kendala lain. Selama perjalanan tersebut tersaji keindahan pemandangan alam dan juga melewati komplek pemakaman Puyang Matauh yang merupakan salah satu puyang (pendahulu) dari tiga puyang pendiri Desa Muara Emil. Setelah itu perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki sampai ke Sungai Emil dimana rasa lelah sedikit terobati oleh keindahan sungai dengan gemericik air mengalir, beriak-riak dan dengan kejernihannya menapaki bebatuan yang tersusun secara bertingkat. Untuk menuju ke air terjun maka perjalanan dilanjutkan menuju ke hulu sejauh 50 meter dengan menuruni tebing yang cukup terjal menapaki sekitar 100 anak tangga alami. Selama menapaki anak tangga tersebut perjalanan akan ditemani dengan lantunan suara alam yang lirih terdengar diantara tegakan-tegakan hutan yang masih rimbun disertai sura gemericik air terjun yang mulai menyapa seakan menyambut kedatangan pengunjung yang ingin menikmati keindahan Napal Carik. Akhirnya keindahan air terjun yang terjun bebas dari ketinggian 50 meter yang bergemericik (becarik) dengan terjangan air yang menerpa tanah yang keras seperti batu (napal) itupun akan menghapus segala kelelahan selama perjalanan.

Menurut penuturan beberapa masyarakat di Desa Muara Emil berdasarkan cerita para puyang (pendahulu) salah seorang Sultan Palembang meminta kepada seluruh masyarakat desa terutama yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari Sembilan untuk mengumpulkan telur yang akan digunakan sebagai perekat pembangunan benteng pertahanan. Dalam perjalanan pengumpulan telur, sultan melihat banyak gadis-gadis desa yang cantik dan berniat mempersunting salah satunya sebagai istri. Setelah para prajurit dan hulubalang mengumpulkan para gadis tidak satupun yang cocok sampai akhirnya sultan menemukan sebuah bangki emas yang hanyut ke sungai dan memrintahkan prajuritnya untuk mencari pemilik bangki emas tersebut. Setelah ditelusuri ternyata pemilik bangki emas tersebut adalah anak gadis Kerio Carang. Sultan pun menyampaikan keinginannya untuk meminang tetapi ditolak oleh Kerio Carang dan putrinya. Merasa ditolak sultan pun marah dan sempat terjadi perkelahian tetapi ternyata Kerio Carang dan putrinya memiliki kesaktian dan lolos dari tangkapan sultan. Dalam pelariannya putri Kerio Carang bersembunyi di dalam hutan di Desa Muara Emil tepatnya di lokasi air terjun Napal Carik. Karena merasa kesepian di dalam hutan maka sesekali ia keluar ke desa sehingga kecantikannya dikenal luas oleh masyarakat. Dalam kesepiannya di tempat persembunyian, putri Kerio Carang tersebut sering menangis dan pulang menemui orang tuanya. Akhirnya Kerio Carang menemui tiga puyang di Muara Emil yaitu puyang Tanjung,  Matauh, dan Dusun Ilir untuk memberikan nama kepada putrinya supaya tidak menangis lagi. Dari ketiga puyang tersebut hanya puyang Dusun Ilir yang mampu memberikan nama yang dapat menghentikan tangisan puti Kerio Carang yaitu diberi nama Putri Dayang Rindu. Konon apabila pengunjung mengunjungi air terjun Napal Carik maka jangan berkomunikasi dengan bahasa palembang karena apabila dilanggar hujan akan turun. Hal tersebut dikarenakan Putri Dayang Rindu yang bersembunyi di air terjun Napal Carik sangat benci dengan Sultan Palembang. Untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut maka silahkan berkunjung ke air terjun Napal Carik.

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini