Mengamati Cacatua sulphurea occidentalis di Dua Lokasi

Labuan Bajo, 29 Juni 2020. Taman Nasional Komodo merupakan habitat penting bagi satwa unik kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis). Distribusi geografis yang terbatas dan ukuran populasi yang relatif kecil (1.000-2.499 individu) membuat satwa ini termasuk ke dalam kategori terancam kritis (Critically Endangered) pada IUCN Red List of Threatened Species (BirdLife International, 2018) dan tercatat dalam daftar satwa yang dilindungi oleh Indonesia.

Untuk memperoleh data dan informasi terkini mengenai tren populasi kakatua kecil jambul kuning di Taman Nasional Komodo, petugas Resort Loh Sebita, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Pulau Komodo Balai Taman Nasional Komodo didampingi oleh pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Komodo melakukan kegiatan monitoring kakatua kecil jambul kuning pada tanggal 22 – 28 Juni 2020 di 2 (dua) lokasi pengamatan, yaitu: (1) Loh Sebita dan (2) Loh Baes. Kegiatan ini merupakan bukti perwujudan pelaksanaan Resort-Based Management (RBM) oleh Balai Taman Nasional Komodo dengan memberdayakan sumber daya manusia di tingkat resort untuk melakukan kegiatan teknis pemantauan keanekaragaman hayati secara rutin. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tren populasi, karakterisitk pohon sarang dan pohon tidur satwa kakatua kecil jambul kuning di dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

Metode yang digunakan untuk mengetahui tren populasi burung kakatua kecil jambul kuning pada kegiatan ini adalah metode Vantage Point yaitu dengan menempatkan 4 (empat) orang pengamat di beberapa titik tertinggi pada lembah pengamatan habitat burung kakatua kecil jambul kuning. Pengamatan ini dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam sehari, setiap pagi hari pukul 06.00 – 08.00 dan pada sore hari pukul 16.00 – 18.00. Sedangkan metode yang digunakan untuk mengetahui karakteristik pohon sarang dan pohon tidur adalah dengan melakukan penelusuran jalur transek oleh 2-4 orang pengamat, dimana jarak antar pengamat + 25 meter. Penentuan jalur transek dilakukan dengan memperhatikan letak pohon - pohon potensial yang kemungkinan dijadikan sarang atau tempat tidur burung tersebut. Informasi ini didapatkan dengan merujuk pada keterangan yang disampaikan oleh petugas yang bertugas pada Resort Loh Sebita. 

Sarang dianggap aktif apabila terdapat/terlihat adanya anak burung/remaja (juvenile)/burung dewasa yang terbang aktif mengelilingi area sekitar pohon tersebut. Untuk setiap pohon sarang yang ditemukan, tim mengukur variabel-variabel sebagai berikut: (1) tingkat aktivitas burung pada pohon, ketinggian pohon sarang (m), ketinggian sarang (m), jenis pohon sarang, diameter pohon sarang (diameter breast high (DBH) dalam cm), dan tipe vegetasi pohon sarang. Tim juga mencatat titik koordinat letak dimana pohon tersebut berada. 

Hasil pengamatan menggambarkan bahwa populasi burung kakatua kecil jambul kuning di Loh Sebita dan Loh Baes relatif stabil. Namun, perlu diketahui bahwa pada hari kedua penghitungan, jumlah populasi burung kakatua kecil jambul kuning cenderung menurun, baik di lembah Loh Sebita maupun di Loh Baes. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh faktor alam yaitu keadaan cuaca yang berangin, sehingga koloni burung yang diamati tidak keluar dari sarangnya. Selama pengamatan, kelompok kakatua ini menuju kearah yang sama. Tim menduga bahwa diarah tersebut terdapat ketersediaan sumber pakan yang melimpah dan kontinyu.

Harapannya dengan dilaksanakannya sistem RBM, petugas di resort dapat terus melakukan kegiatan monitoring secara rutin dan konsisten serta memperoleh informasi yang dibutuhkan guna mendukung efektivitas pengelolaan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Komodo dalam jangka panjang.

Sumber : Balai Taman Nasional Komodo

Penulis: Rawuh Pradana, S.H. | Penyunting: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S.

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini