Festival Cycloop sebagai Bagian dari Role Model BBKSDA Papua 2018

Jayapura, 11 Desember 2018. Festival Cycloop tuntas dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 6-8 Desember 2018. Sebagai kegiatan berbasis kearifan lokal yang memadukan unsur tradisional dan kontemporer, masyarakat Jayapura menilai Festival Cycloop cukup sukses. Persiapan panjang BBKSDA Papua untuk giat Festival Cycloop, dengan menggandeng tim kreatif dari berbagai komunitas, LSM, serta instansi di Jayapura telah memenuhi sebagian besar harapan masyarakat terhadap ketepatan konsep sebuah festival bertema konservasi.

Hari pertama kegiatan diisi dengan FGD yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, akademisi, perwakilan Pemerintah Daerah Provinsi Papua serta Kota dan Kabupaten Jayapura, juga perwakilan Ketua Dewan Adat Suku beserta masyarakat adat yang mendiami sekitar CA Pegunungan Cycloop. Hasil FGD antara lain para pihak bersepakat menjaga dan melestarikan Cycloop melalui pendekatan penguatan kelembagaan adat serta undang-undang yang berlaku. Langkah tersebut disinergikan dengan hasil Musyawarah Adat (Musdat) yang telah dilaksanakan di tiga Dewan Adat Suku, yaitu Sentani, Moy, dan Tepera Yewena Yosu.

Tanggal 7 Desember 2018, hari kedua terlaksana konvoi kendaraan roda dua dan empat, bertolak dari Sentani, Kabupaten Jayapura menuju Pasir 6, Kota Jayapura. Iring-iringan kendaraan dilepas oleh Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw. Konvoi merupakan salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap pelestarian CA pegunungan Cycloop.

Puncak Festival Cycloop digelar di Pantai Pasir 6 dengan rangkaian acara yang menggabungkan unsur kesenian dan pengetahuan tentang konservasi. Di antara acara yang digelar adalah ritual sasi. Dalam tradisi masyarakat Papua, sasi dapat dikategorikan sebagai upaya menjaga dan melestarikan alam agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. Pada praktiknya, sasi berisi larangan memanfaatkan suatu kawasan dalam jangka waktu tertentu, sehingga kawasan tersebut nantinya menghasilkan berbagai sumber daya dengan kualitas dan kuantitas lebih baik untuk menunjang kehidupan masyarakat sekitar.

Selain ritual sasi, pelepasliaran satwa juga digelar dalam Festival Cycloop, terdiri dari sembilan ekor kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), dua ekor nuri kelam (Pseudeos fuscata), dan satu ekor sanca hijau (Morelia viridis). Kegiatan ini cukup menginspirasi masyarakat, terutama bagi mereka yang baru pertama menyaksikan prosesi pelepasliaran satwa. Diharapkan ini menjadi titik balik tumbuhnya jiwa melindungi dan melestarikan satwa dalam diri semua masyarakat di sekitar CA Pegunungan Cycloop.

Berbagai hal lain yang dilaksanakan dalam Festival Cycloop adalah penanaman pohon, peresmian PLTMH di Kampung Necheibe, juga menampilkan tarian adat dari masyarakat di lima Dewan Adat Suku sekitar kawasan CA Pegunungan Cycloop. Tarian-tarian tersebut lebih banyak menggambarkan harmonisasi manusia dan alam sekitarnya.  

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua, Askhari Dg. Masikki, S.Hut., selaku penanggung jawab Festival Cycloop memberikan pernyataan tersendiri. Ia menjelaskan, Festival Cycloop adalah salah satu program penyebarluasan informasi oleh BBKSDA Papua mengenai konservasi. Lebih dari itu, Festival Cycloop juga merupakan implementasi dari sepuluh cara (baru) kelola kawasan konservsi di Indoneisa, terutama poin satu dan lima, yaitu masyarakat sebagai subyek dan penghormatan terhadap nilai budaya dan adat. Festival Cycloop merupakan bagian dari pengelolaan cagar alam BBKSDA Papua berbasis kearifan lokal. Hal ini tertuang dalam role model, yang sudah dilakukan dengan penguatan pengelolaan sejak di tingkat tapak dengan membentuk resort. BBKSDA Papua juga telah melakukan penataan blok untuk kawasan CA Pegunungan Cycloop. Ruang-ruang pengelolaannya terdiri dari blok perlindungan, blok rehabilitasi, dan blok khusus.

“Ini adalah gerakan moral. Kita menggaungkan kepedulian terhadap kawasan cagar alam Cycloop sehingga seluruh komponen bisa mengetahui peranan dan fungsi Cycloop yang sangat vital. Selain sebagai sistem penyangga kehidupan, sumber air, Cycloop juga sebagai tempat perlindungan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna,” kata Askhari. Ia berpendapat, masyarakat Papua yang dikenal sangat harmoni dengan alam saat ini perlu mendapatkan perhatian lebih besar dari berbagai pihak, agar mereka tetap menjaga harmoni tersebut. Karena seiring bertambahnya jumlah penduduk di wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura, CA Pegunungan Cycloop mendapatkan tekanan yang semakin tinggi. Namun lima Dewan Adat Suku bersama BBKSDA Papua dan stakeholder terkait telah bersepakat menjaga Cycloop lebih baik ke depan. (DJR)

 

Sumber : Balai Besar KSDA Papua

               Sumber foto: Abdel Gamel Naser

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini