Pers Release
Menteri Siti : Tingkatkan Monitoring dan Pencegahan Karhutla di Tahun 2018

SIARAN PERS

Nomor : SP.71/HUMAS/PP/HMS.3/02/2018

 

Menteri Siti : Tingkatkan Monitoring dan Pencegahan Karhutla di Tahun 2018

 

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jumat, 9 Februari 2018. Tahun ini, monitoring dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan terus ditingkatkan KLHK, sebagai upaya menekan hotspot dan terjadinya karhutla. Hal ini dituturkan Menteri LHK, Siti Nurbaya di Jakarta (08/02/2018). Menurutnya, upaya pencegahan yang paling signifikan telah dilakukan KLHK, adalah melalui pengendalian tata kelola gambut.

"Kita sudah berusaha dan kalau lihat datanya di 2017 itu 68% areal yang terbakar berada di hutan produksi dan APL (Areal Penggunaan Lain), artinya akses masyarakat ke dalam hutan itu pesat atau pada wilayah tersebut itu pesat. Memang masih ada 32% di hutan lindung, di hutan konservasi, nah ini yang bagian saya harus saya kejar, yang di hutan produksi dan di APL, tentu masyarakat dan dunia usaha", lanjutnya.

Siti Nurbaya juga berterimakasih atas dukungan masyarakat dan dunia usaha, dalam upaya pengendalian karhutla. "Jadi kita berusaha dari segala pihak, dari segala perspektif termasuk dari teknologinya, usahanya, dan pencegahannya dengan tata kelola. Jadi upaya-upaya itu akan kita lakukan", ujarnya.

Terkait peningkatan patroli terpadu di tahun 2018, Siti Nurbaya meyakini, hal ini dapat memperkuat segala aspek, tidak hanya penanganan karhutla, namun termasuk penemuan-penemuan terhadap masalah-masalah di lapangan, serta memberi pengaruh terhadap turunnya deforestasi.

Berdasarkan data pantauan Posko Pengendalian Karhutla KLHK, hingga kemarin malam (07/02/2018), hotspot masih terpantau rendah, yaitu sebanyak 1 titik berdasarkan Satelit NOAA, yaitu di Kalimantan Barat, serta 1 titik berdasarkan TERRA AQUA (NASA) confidence level >80%, di Sulawesi Utara.

"Yang paling penting sekarang adalah monitoringnya terus-terusan kita lakukan, dan ketika ada indikasi hotspot itu kita dekati", Siti Nurbaya kembali mengingatkan. Untuk hal ini, Siti Nurbaya juga ikut memantau secara aktif pagi dan malam, melalui aplikasi pada telepon genggamnya.

Dengan hadirnya teknologi pemantauan hotspot yang semakin berkembang, Siti Nurbaya berharap hal tersebut dapat mendukung upaya deteksi dini dan pencegahan yang semakin baik.

Pada kesempatan yang sama, Siti Nurbaya menyampaikan apresiasinya atas penegasan Presiden terhadap komitmen jajarannya dalam mendukung pengendalian karhutla setiap tahunnya. Menurutnya, hal tersebut sangat efektif dalam menekan angka hotspot dan kejadian karhutla.

"Di tahun 2017 tidak ada asap yang dahsyat apalagi sampai pindah ke luar negeri. Di 2016 itu ada 4 hari, saya ingat betul antara 21 sampai 29 agustus itu karena di Riau ada kejadiannya. Nah di 2015 itu 24 hari yang gelap, tidak bisa apa-apa, asapnya juga keluar negeri. Jadi kalau lihat data itu maka sebetulnya di 2016, terus lagi di 2017 sudah menurun, jadi efektif yang diperintahkan oleh Bapak Presiden", tuturnya. 

Bagi Siti Nurbaya, penegasan Presiden juga berlaku untuknya, namun hal ini tidak membuatnya ragu, melainkan semakin meningkatkan semangatnya untuk terus bekerja dengan baik. (*)

Penanggung jawab berita:

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,

Djati Witjaksono Hadi – 081375633330