Mencari inspirasi Wisata Pendidikan dari Ecocamp Bandung

Jakarta, 29 November 2020. Taman Nasional Kepulauan Seribu saat ini sedang menyusun paket wisata edukasi yang berlokasi di Pulau Pramuka. Kelompok Binaan, SPKP Samo Samo menjadi salah satu kelompok yang sudah punya inisiasi membuat edupark didampingi oleh para penyuluh TN Kepulauan Seribu, agar kegiatan wisata yang dibuat dapat menarik, unik dan berkesan memberikan pengalaman bagi wisatawan, sehingga dipandang perlu melakukan studi banding ke Eco learning camp.

Ecocamp, berlokasi di Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, di sinilah dua orang Perwakilan SPKP Samo Samo yang didampingi oleh Kepala Balai dan dua orang penyuluh pendamping mengikuti sebuah cerita dari perjalanan studi banding Pengelolaan Ekowisata serta belajar mencintai alam dengan cara berbeda.

Feels like home, itu yang dirasakan saat pertama kali berada di Ecocamp ini. Romo Ferry, salah satu pendirinya menceritakan tentang aktivitas yang bisa didapatkan saat berada di Ecocamp, salah satunya tujuh kesadaran baru hidup ekologi, yang terdiri dari: Hidup Berkualitas, Sederhana, Hemat, Peduli, Semangat Saling Berbagi, Bermakna dan Harapan. Hal unik lainnya adalah saat menikmati persembahan tea ceremony untuk menyambut pertama kali pengunjung datang, seperti diajak kembali untuk merenungi dan bersyukur atas apa yang dihadirkan oleh alam untuk kehidupan kita.

Pengelolaan sampah menjadi salah satu muatan pada kegiatan wisata edukasi di Pulau Pramuka yang diajarkan pula di Ecocamp. Di sini setiap org diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap sampahnya.  Pengelolaan sampah organik dan anorganik, pemanfaatannya hingga penjelasan tentang proses merubah sampah anorganik menjadi organik yang sangat menarik dan memotivasi untuk dapat diaplikasikan di Kepulauan Seribu.

Mas Adi, seorang volunteer pada Ecocamp mengajak melakukan hening dan nafas kehidupan, dimana peserta diajak untuk menghentikan semua aktifitas yang sedang dilakukan untuk merenung bagaimana oksigen yang dihasilkan oleh alam dihadirkan untuk kita bisa terus bernafas. Interpretasi yang sungguh menyentuh setiap pengunjung.  Kegiatan yang tak kalah menarik saat Ibu Wiwien Tri Buwani yang menjelaskan tentang produk ekowisata, dan pentingnya interpretasi dalam sebuah produk ekowisata. Kita diberi pengetahuan bahwa seorang interpreter  knowing when to stop dalam memberikan interpretasi ketika alamnya sudah sungguh sangat bermakna, untuk membiarkan pengunjung melebur dengan alam dan menikmatinya.

Perjalanan ini sungguh menjadi pengalaman dan menginspirasi untuk membuat sesuatu yang berbeda untuk kegiatan wisata edukasi di Taman Nasional Kepulauan Seribu, salah satunya dengan kemasan interpretasi yang luar biasa. Kita bisa menyampaikan "apa yang kita anggap penting (alam Taman Nasional) untuk menyentuh hati para pengunjung".

Sumber : Devi A. dan Alinar Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini