Kampanye Perlindungan CA Pegunungan Cycloop, Daniel Toto Ajak Jaga dan Lindungi Cycloop

Jayapura, 16 November 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua menyelenggarakan kampanye perlindungan Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop pada Sabtu, (16/11). Kampanye berlangsung di Lantai Dasar Mal Jayapura, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai para pejabat dari berbagai instansi terkait, LSM, pelajar, sampai masyarakat umum.

Kampanye ditujukan untuk menyentuh masyarakat lebih luas agar memiliki kesadaran dalam menjaga Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Lebih lanjut kampanye bertujuan mengajak masyarakat untuk melakukan aksi nyata menjaga Cycloop dalam kehidupan sehari-hari. Aksi yang akan berdampak baik di masa depan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya menanam pohon. Untuk tujuan tersebut, dalam kampanye disediakan sesi khusus pembagian bibit tanaman secara gratis kepada masyarakat pengunjung. Bibit-bibit yang tersedia antara lain matoa (Pometia pinnata), pinang (Areca catechu), nangka (Artocarpus heterophyllus), dan pucuk merah (Syzygium oleina).

Selain pembagian bibit tanaman, dalam kampanye juga terdapat sesi pemutaran video-video tentang Cagar Alam Pegunungan Cycloop, yang digarap oleh USAID Lestari dan Balai Besar KSDA Papua. Sesi lainnya adalah kuis seputar Cagar Alam Pegunungan Cycloop serta TSL (Tumbuhan dan Satwa Liar) endemik Cycloop. Sesi ini cukup menarik perhatian pengunjung, sekaligus menambah wawasan mereka tentang Cycloop. Lebih menarik lagi karena kuis disajikan berselingan dengan sesi-sesi yang lain di sepanjang berlangsungnya kampanye.

Dalam sesi orasi, Ketua Dewan Adat Suku Imbi Numbay, Daniel Toto, menegaskan, “Siapa pun yang tinggal di Kota dan Kabupaten Jayapura, di sekitar Cagar Alam Pegunungan Cycloop, wajib menjaga dan memelihara Cycloop ini. Kalau tidak mau menjaga, silakan menyimpan barang-barang dan jangan berada di sini lagi.” Daniel Toto juga menyitir hasil survei Balai Besar KSDA Papua, bahwa lapisan tanah di Pegunungan Cycloop sangat tipis, dan ditumbuhi pepohonan yang perakarannya tidak dalam. Hal ini sangat rawan menimbulkan longsor dan banjir apabila terjadi kerusakan ekosistem. Untuk itu, Daniel Toto menghimbau seluruh masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura agar bersama-sama menyadari, bahwa menjaga Cycloop adalah suatu keharusan dan kewajiban.

Selain itu, Daniel Toto juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya lomba cipta puisi bertema “Menjaga Cycloop, mama yang mengalirkan kehidupan bagi semesta”. Enam penulis puisi yang meraih juara turut hadir dalam kampanye untuk menerima hadiah berupa piagam penghargaan dan uang pembinaan. Mereka juga membacakan puisi di sela-sela sesi kampanye yang berlangsung.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S. Hut., M. Si., menyampaikan, “Hari ini kita menggelar kampanye perlindungan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, sekaligus memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Saya kembali menegaskan, bahwa mencintai puspa dan satwa sama artinya dengan menjaga tumbuhan dan satwa liar untuk tetap hidup berkelanjutan di alam. Tumbuhan dan satwa liar itu merupakan bagian dari kekayaan bangsa dan negara. Dengan menjaganya, berarti kita telah menjaga kekayaan bangsa dan negara.”

Lebih lanjut Edward menyampaikan hal-hal terkait konservasi. Nilai-nilai di dalam konservasi modern, salah satunya, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan. Konservasi bukan berarti tidak dapat memanfaatkan sumber daya alam sama sekali. “Kita boleh memanfaatkan sumber daya, namun harus sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Kita wajib memperhatikan cara-cara pemanfaatan yang bijaksana supaya sumber daya di alam tetap lestari,” kata Edward.

Mengenai pelestarian Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Edward menyampaikan, “Demi menjaga dan menjamin kelestarian Cagar Alam Pegunungan Cycloop, pengelolaannya lebih tepat berbasis kearifan lokal. Karena telah terbukti nilai-nilai kearifan lokal mampu menjaga Pegunungan Cycloop selama berabad-abad. Pengelolaan berbasis kearifan lokal artinya mendudukkan masyarakat adat di sekitar Cycloop bukan lagi sebagai obyek, melainkan sebagai subyek.” (djr)

Sumber: Balai Besar KSDA Papua

Call Center: 0823-9802-9978

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini