Balai Besar Tana Bentarum Laksanakan Penilaian METT

Putussibau, 15 Mei 2019. Bertempat di Aula Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum  (TaNa Bentarum), Balai Besar TaNa Bentarum melaksanakan penilaian efektivitas pengelolaan Taman Nasional dengan menggunakan metode Management Effectiveness Tracking Tools (METT). Dihadiri sebanyak 54 orang berasal dari internal Balai Besar TaNa Bentarum dan para stakeholders baik dari OPD kab Kapuas Hulu maupun para NGO yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu.

Kegiatan ini dibuka Direktur Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal KSDAE Dyah Murtiningsih. Dalam sambutannya Dyah Murtiningsih menyampaikan “METT dapat digunakan sebagai salah satu indikator kinerja utama KLHK dan dipakai untuk mendiagnosis pengelolaan kawasan konservasi.” Lebih lanjut Dyah menyampaikan bahwa rekomendasi dan tindak lanjut berdasarkan scientific base management, pengelolaan harus mempertimbangkan nilai-nilai penting kawasan dan kondisi sosek, memperkuat sistem perlindungan dan meningkatkan komunikasi dengan masyarakat sekitar melalui pendekatan lanskap.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Balai Besar TaNa Bentarum Arief Mahmud menyampaikan “Pada Tahun 2017, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum Telah Melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Di 2 (Dua) Taman Nasional Yaitu TNBK Dan TNDS, Yang Dilakukan Setiap 2 (Dua) Tahun Sekali. Nilai Indeks METT Untuk Kawasan TNBK Sebesar 69%, Dan Untuk Penilaian Di Kawasan TNDS Memiliki Nilai Indeks METT Sebesar 75%.” Penilaian METT pertama dilakukan pada tahun 2015 dan dilaksanakan secara periodik setiap 2 tahun. “Semoga Nilai Indeks Penilai Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di TNBK dan TNDS pada Tahun 2019 ini dapat meningkat dari tahun 2017. Sehingga dapat mendukung pencapai IKK Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem dalam rangka peningkatan efektivitas pengelolaannya dengan Nilai Indeks METT Minimal 70% pada 260 Unit Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam Dan Taman Buru.” Imbuh Arief dalam sambutannya.

METT adalah suatu perangkat yang digunakan untuk melakukan pengkajian tingkat efektivitas pengelolaan sesuai dengan visi, misi dan tujuan pengelolaan yang telah ditentukan sebelumnya. METT telah diimplementasikan di lebih dari 100 (Seratus) negara dan 2.000 kawasan konservasi di Dunia. METT dipilih karena metode ini dibuat untuk menilai kawasan konservasi pada level tapak/lokal/lapangan, sehingga memungkinkan staf/petugas dari suatu kawasan konservasi menjawab pertanyaan – pertanyaan pada METT.

Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini