Cerita Mistis Pendakian Gunung Ciremai

Kuningan, 17 November 2018. Gunung Ciremai, dataran tertinggi Jawa bagian barat yang termasuk favorit tujuan pendakian. Kunjungan pendaki kerap melonjak saat musim liburan serta dua momen penting yakni agustusan dan tahun baru. Tatkala pendakian, tubuh dipaksa bekerja keras berjalan dan menahan beban logistik hingga batas maksimal kemampuannya. Lelah, letih dan lemas pasti menghinggapi pendaki. Saat inilah pikiran kosong yang terkadang mendatangkan halusinasi. Tak ayal banyak sekali kisah mistis yang menyelimuti gunung Ciremai. Baik cerita mistis yang dialami oleh para pendaki mau pun cerita yang kita dengar dari warga setempat.

Seperti yang dituturkan Abah Indi (60), pengelola jalur pendakian Apuy, Argamukti, Argapura, Majalengka kerap menerima "laporan" dari pendaki yang mengalami kejadian ganjil.

"Dari Pos V, Sanghyang Rangkah memang kerap terdengar sayup-sayup suara gamelan", ungkap Abah Indi saat ditemui di pos pendakian, kemarin (9/11).

"Banyak pendaki merasa heran dengan bunyi gamelan tersebut. Padahal di sekitar ini tidak ada hajatan", seloroh Abah Indi melanjutkan ceritanya.

Abah Indi juga bercerita tentang banyaknya korban jiwa manusia dan hewan akibat kerja paksa di perkebunan sekitar Apuy pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Mayat mereka tak dikuburkan melainkan dibiarkan tergeletak hingga membusuk. Berbeda dengan Arjuna (20), pendaki asal Cirebon yang tidak mendengar alunan gamelan misterius tadi. Tapi dirinya mengaku mengalami kejadian aneh saat menapaki jalur pendakian Apuy dengan tiga temannya dini hari kemarin (8/11).

"Seekor burung hitam dan tawon hitam mengikuti kami dari pos VIhingga hampir ke puncak. Sungguh aneh dan sedikit menakutkan karena ini pengalaman pertama mendaki dengan ditemani satwa. Mereka seolah menunjukkan jalan", tutur Arjuna.
juga mengalami kejadian aneh saat menapaki jalur pendakian Apuy beberapa waktu lalu.

Kejadian itu membuat bulu kuduk Arjuna dan kawan-kawannya berdiri ketakutan sekaligus pengalaman yang mengesankan. "Insiden" tersebut juga pasti menjadi kisah menarik yang di ceritakan kembali kepada pendaki lain sehingga timbulah mistis. Burung hitam yang dimaksud tadi ialah Anis Gunung (Turdus poliochephalus), burung jenis pemakan cacing. Banyak cacing bermunculan akibat sisa makanan yang ditinggalkan pendaki.

Kelelahan saat mendaki kadang mengakibatkan otak kita sulit berpikir jernih. Nah, hal semacam inilah buah pikir "fatamorgana" yang luar nalar dan logika. Meski demikian, kehidupan alam gaib yang berbeda dimensi, ruang dan waktu dengan kita memang benar-benar ada [teks © Gandi, foto © koeszky - BTNGC | 112018].

Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini