Dimanakah Lokasi Pondok Wallace di Maros?

Minggu, 27 Mei 2018

Alfred Russel Wallace seorang naturalis berkebangsaan Inggris menjelajah di Kepulauan Melayu, saat ini Singapura, Malaysia, dan Indonesia selama delapan tahun.

Dua kali ia mendatangi Makassar. Kedatangan perdananya mengekplorasi Makassar bagian selatan hingga ke Samata (Gowa) sekitar 2 September – 13 Desember 1856. Setelah berayar ke Kepulauan Aru, ia kembali lagi ke Makassar pada 11 Juli 1857. Kali ini ia memilih Maros sebagai lokasi ekpedisi berikutnya.

Mengapa Maros? Catatan Ida Pfeiffer dan Willem Leendert Mesman menuntunnya menjelajahi Maros. Letaknya sekitar tiga puluh mil ke utara dari Makassar.

Saya jadi tertarik menguak kisahnya selama menjelajah di Maros. Ke manakah ia selama di Maros? Saya pun bertemu dan berdiskusi dengan Kamajaya Shagir yang pernah menelusuri jejak Wallace di Maros. Dan suatu hari, saya pun kembali ditemani untuk menelusuri jejaknya.

Begitu asyik berdiskusi dengannya. “Saya sudah banyak membaca dokumen Wallace di Maros. Buku, cacatat butut, surat-bersurat, hingga tulisan penggemar Wallace di belahan dunia lain,” tutur Kamajaya. Saya kemudian menarik kesimpulan bahwa Kamajaya sangat mengidolakan sosok Wallace.

Begitu bersemangatnya ia menceritakan kisah sang pengembara. “Wallace beserta dua pembantunya berangkat dari Makassar melintasi pesisir dengan perahu pada malam hari. Saat fajar memasuki sungai Maros. Tiba di Solojirang (saat ini sekitar Polres Maros) pada pukul tiga sore.  Ia kemudian melapor ke Asisten Residen, memperlihatkan surat pengantarnya dari Gubernur Makassar. Setelah itu ia kembali ke Kapal dan tidur,” tuturnya.

“Keesokan harinya Wallace mendapat bantuan dari Jacob David Manthjis Mesman, saudara temannya di Makassar. Sepuluh orang pribumi membantunya mengangkut barang bawaannya,” tambahnya.

Jacob dikisahkan Wallace sebagai seorang petualang. Menikmati kehidupannya bersama alam, bergantung pada senapan dan anjing pemburu untuk memenuhi sumber pangan. Berburu babi hutan dan sesekali waktu menembak rusa, ayam hutan, julang hingga merpati hutan. Menanam padi dan kopinya sendiri, serta memelihara banyak bebek dan unggas serta kerbau yang menghasilkan persediaan susu dan mentega.

Sayur dan buah-buah sangat melimpah saat tiba musimnya. Cerutunya terbuat dari tembakau yang dilintingnya sendiri. Teman baiknya itu yang juga dikenal dengan sapaan Tuan Solo selalu mengirimkannya daging, telur, susu, dan “Saguer” manis.

Mereka berjalan menuju peternakan Jacob. Melewati jalan desa dengan suguhan hamparan sawah yang mengering, tersisa tunggak padi telah dipanen. Bukit kapur menghampar dengan latar belakang Gunung Bulusaraung. Akhirnya setelah berjalan sekitar enam sampai delapan mil, ia sampai pada sebuah lembah yang hampir dikelilingi bukit kapur.

Jacob kemudian menjamu Wallace pada sebuah warung bambu yang beratapkan jerami. Tak jauh dari sana Jacob menawarkan sebagian rumah mandornya sebagai tempat tinggal sementara Wallace.

Dengan senang hati sang pengembara menerima tawaran Jacob. Hanya saja Wallace merasa tidak cocok dengan kondisi rumah. “Rumah ini terlalu terbuka, menyulitkan saya bekerja dengan serangga dan kertas,” tutur Wallace dalam bukunya.

Setelah beberapa hari Wallace terserang demam. Karenanya ia kemudian memutuskan pindah, jaraknya sekitar satu mil dari rumah sang mandor. Tinggal di pondok kecil sekitar kaki bukit yang berhutan. Sebuah pondok kecil, yang terdiri dari beranda tertutup atau ruang terbuka, sebuah kamar tidur kecil di dalam, dengan sebuah dapur kecil di luar yang dibangun Jacob dalam beberapa hari.

“Saya memiliki pondok sederhana dari bambu. Ketika saya tiba Agustus, udara sangat panas dan kering, tak ada hujan selama dua bulan. Dedaunan mengering, begitu sulit menemukan serangga termasuk kumbang,” isi surat Wallace ke Samuel Stevens, Amboyna, 20 Desember 1857.

Namun di manakah letak pondok sederhana ini berada? Dalam buku The Malay Archipelago tak digambarkan secara detail.

Bermodal peta-peta Belanda tahun 1915–1926, Kamajaya mempelajari rute Wallace selama di Maros. Selanjutnya ia bersama dengan tiga orang rekannya mendatangi sejumlah tempat. Kemudian memastikan bahwa lokasi tersebut sesuai dengan deskripsi Wallace.

“Melewati sebuah dataran tinggi yang membentuk bahu salah satu bukit, pemandangan indah terbentang di depan kami. Kami melihat ke dalam sebuah lembah kecil yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh bukit, yang tiba-tiba menjulang di tebing besar dan membentuk rangkaian bukit kecil. Puncak bukit dan kubah dengan bentuk yang sangat bervariasi dan fantastis. Di tengah-tengah lembah terdapat sebuah rumah bambu besar, sementara selusin pondok dari bahan yang sama tersebar di sekitarnya.” Begitulah deskripsi Wallace ketika pertama kali memasuki suatu perkampungan yang akan menjadi tempat tinggal selama di Maros.

Pencarian akhirnya mengantarkannya ke Amasanga yang ditulis Wallace dalam Alfred Russel Wallace’s Species Notebook of 1855–1859. “Apakah daerah sini terdapat kampung yang dahulu dihuni Belanda,” tanya Farid pada tokoh masyarakat yang ditemuinya. “Di sana, dahulu memang ada kampung Belanda menurut cerita orang-orang tua dahulu,’ Jawab La Saing (60 tahun) dengan dialeg khas Bugisnya.

“Amma’suara sering menceritakan bahwa di kampung ini ada perkampung Belanda. Amma’suara adalah Kakek saya,” tutur La Saing mulai bercerita saat kami temui di rumahnya.

Ciri-ciri yang dideskripsikan Wallace memang begitu mirip. Terdapat lembah yang luas membentang. Lembah ini hampir dikelilingi karst yang berbentuk menara. Di beberapa tempat terdapat genangan air lengkap dengan beberapa kuda sedang merumput di sekitarnya. Membayangkan Jacob melepasliarkan kerbau dan kuda di sekitar kediamannya.

Saat menyambangi lokasi yang diduga kuat adalah Amasanga hanya tersisa pekuburan tua. “Kuburan ini bisa jadi bukti bahwa dahulu di sini ada perkampungan,” pungkas kamajaya dengan yakin.

“Apakah bisa dipastikan ini adalah lokasi Amasanga seperti yang disebutkan Wallace?” tanya saya sekenanya. “Tidak dapat dipastikan” tutur Kamajaya sedikit ragu. Namun hal ini memungkinkan dari Amasanga menjadi Amassangeng, dalam dialeg bahasa Bugis. 

Pondok Wallace

“Lalu ke arah manakah Wallace mendirikan pondok sejauh satu mil?” tanya saya ketika kamajaya membuka lagi peta lawasnya. Dengan memperhitungkan skala peta Kamajaya menunjuk satu tempat bernama”Tompokbalang” di peta. “Sekitar sini,” tegasnya.

La Saing yang mendengarkan percakapan kami, angkat bicara. “Di bukit sana, dahulu orang-orang Tompokbalang mendirikan rumahnya sebelum kemudian berpindah. ”

“Kakek saya juga sering bercerita kalau ada rumah Belanda di sana,” tambahnya. Kami kemudian menyambangi kaki bukit batu kapur. Menelusuri pematang sawah yang hijau menghampar. “Pohon asam itu patokannya,” ujar La saing menunjukkan arah. Tak lama kemudian kami menyeberangi sungai kecil, kemudian sedikit menanjak menuju arah pohon asam.

Kami kemudian sampai pada lokasi diduga lokasi pondok Wallace. Sebidang tanah datar dengan luas sekitar 8x20 meter. “Bulu kuduk saya berdiri saat pertama kali menyambangi lokasi ini. Bisa jadi karena saya begitu menghayati perjalanan Wallace,” tutur Kamajaya.

Di sekitar lokasi diduga lokasi beridirnya pondok, terdapat beberapa pohon nangka (Arthocarpus sp), sejumlah pohon asam (Tamarindus indica), dan puluhan pohon aren (Arenga pinnata) di kaki bukit berhutan.

Tak jauh dari lokasi pondok terdapat mata air yang diduga Wallace gunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya.

Saat itu musim kemarau, sungai–sungai kecil mengering. Hanya terdapat satu-satunya sumber mata air yang dapat digunakan. Hanya sekitar lima puluh meter dari pondoknya berdiri, berada tepat di kaki bukit. Terdapat mata air pada lubang yang dalam. Wallace kemudian memanfaatkannya untuk keperluan air bersih sehari-hari, termasuk mandi.

Saat kami bertandang, sungai kecil sebelum pondok masih mengalirkan air, meskipun alirannya kecil. Ini masih awal musim kemarau.

Mata air dari lubang yang dalam berasal dari bukit kapur di atasnya. Air yang keluar dari bongkahan batu benyerupai lubang itu tampak bening nan jernih. “Air ini tak pernah kering,” tutur La Saing. Saat ini masyarakat Tompokbalang memanfaatkan air ini dengan memasang water intake tepat di mulut lubang. Menampung kemudian mengalirkan ke rumah-rumah warga.

Wallace senang saat menjelajahi sungai kering, banyak lubang tergenang air, batu-batu, dan pohon tumbang, dan dibayangi tajuk hutan yang megah. Selama di Amasanga atau Tompokbalang, Wallace banyak mengoleksi kupu-kupu dan kumbang. “Di hutan bukit batu kapur ini hidup berbagai jenis kupu-kupu terbaik di dunia,” pungkasnya. Kupu-kupu Sulawesi yang langka dan indah adalah objek utama pencarian Wallace di Maros.

Perjalanan ke Bantimurung

"Kira-kira pada bagian akhir September hujan turun dengan deras," prediksi Wallace. Wallace pun memutuskan untuk mengunjungi air terjun Sungai Maros (Bantimurung). Airnya mengalir dari pegunungan. Di mana saat itu telah menjadi tempat wisata yang indah.

Wallace berangkat bersama dua orang lainnya, seorang pemandu dan pembantunya. Menempuh perjalanan selama tiga jam ke Bantimurung. Melewati persawahan dengan jejeran bukit kapur berada di sisi kiri. Setelah dua jam perjalanan mereka tiba di jalan utama yang bersisian dengan sungai. Wallace memperkirakan bahwa ia sudah separuh perjalanan antara Maros dan air terjun. Dari situ berjalan melewati jalan bagus, mereka tiba di air terjun satu jam kemudian.

Kami coba menulusuri kemungkinan jalan yang digunakan Wallace menuju air terjun Bantimurung. Perkiraan pertama bahwa rombongan Wallace melewati perkampungan Leang-leang. Namun saat kami menjejalnya pemandangan jejeran karstnya berada di dua sisi. Letaknya juga terlalu dekat dengan Bantimurung.

Jalan yang paling memungkinkan melewati perkampungan Tompokbalang – Bentenge – Manarang – Bontosunggu berakhir di jalan poros Maros–Bone. Lebih mewakili pertengahan antara Maros dan Bantimurung.

Saat tiba di Bantimurung, ia sangat takjub dengan suguhan air terjun. “Lebar sungai sekitar dua puluh meter. Airnya mengalir di antara dua dinding vertikal batu kapur. Di atas batu kapur membulat dengan dua kurva yang dipisahkan dua birai kecil setinggi empat puluh kaki. Air mengalir tipis laksana lembaran-lembaran busa, bergelombang mengikuti lekukan batu hingga jatuh dan berkumpul pada kolam yang dalam di bawah.”

Selama di Bantimurung ia menjelajah hingga ke Telaga Kassi Kebo, sebuah danau dengan air terjun kecil. Di sisi telaga ini berpasir, tempat kupu-kupu hingga mengisap mineral. “Saat siang, matahari bersinar dengan terik. Pada tepian kolam air terjun atas menyajikan pemandangan yang indah. Gerombolan kupu-kupu hinggap di gundukan pasir yang lembab, warnanya beragam, oranye, kuning, putih, biru, dan hijau menghias. Ketika mendekatinya dan merasa terganggu mereka terbang ke udara dalam jumlah besar membentuk awan berwarna-warni,” kagum Wallace.

Selama empat hari:19-22 September 1857, Wallace mengeksplorasi Bantimurung. Ia penasaran menjejal koridor-koridor karst, namun ia memiliki beberapa alasan yang membatasi. Salah satunya: ia tak memiliki izin lebih jauh di wilayah Bugis.

Selama di Bantimurung, Wallace hanya mengoleksi kupu-kupu (Lepidoptera) sebanyak 25 jenis. Sisanya 207 jenis kupu-kupu dikoleksi di sekitaran Amansanga atau Tompokbalang, dimana lokasi pondok Wallace berdiri. 

The Kingdom of Butterfly demikian julukan bagi kawasan wisata Bantimurung. “Namun, Wallace tidak pernah menuliskan kawasan wisata Bantimurung dengan julukan demikian baik dalam catatan atau bukunya sekalipun,” Kamajaya menegaskan.

Ia pun pernah mengkonfirmasi hal tersebut dengan Dr. Tony Whitten, selaku pengantar buku  Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam, karya Wallace dalam versi bahasaIndonesia. “Wallace tidak pernah menuliskan kawasan Bantimurung dengan julukan The Kingdom of Butterfly,”  tegas Tony.

Selama kurun waktu lebih kurang tiga bulan mengeksplorasi wilayah Maros, Wallace berhasil mengumpulkan 232 jenis kupu-kupu (Lepidoptera), yang terdiri dari 139 jenis Papilionoidea, 70 jenis kupu-kupu malam (moths) dan 23 jenis Hesperidae (skippers). Data hasil eksplorasinya tersebut tercatat dalam  Alfred Russel Wallace’s Spesies Notebook 1855 – 1859.

Sumber :  Taufiq Ismail – Staf Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

 

 

Berikan rating untuk artikel ini

Average Rating: 0

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini