Sayur Khas Desa Samaenre Dari Pucuk Daun Pohon Beringin

Hari ini, Rabu, 19 Juli 2017 kami mengunjungi Mallawa. Sebuah kecamatan, sekaligus resor taman nasional, bagian dari Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Setelah menempuh perjalanan dari kantor Balai TN Bantimurung Bulusaraung tak kurang dari 90 menit akhirnya kami tiba di Desa Samaenre.

Hamparan sawah membentang luas sepanjang mata memandang. Gunung-gunung berbaris mengelilingi tiga desa di kecamatan ini. Barisan gunung di bagian kanan saat saya masuk desa, berjejer tiga air terjun dari kejauhan. Tunggak-tunggak padi menguning, sisa-sisa panen beberapa minggu lalu. Beberapa pak tani mulai menggarap lagi sawahnya untuk ditanami kembali. Tak jauh dari jalan beton yang kami lalui seorang pemuda dengan tongkat kayu di tangan mengembalakan belasan sapi miliknya. Hawa dingin mulai menusuk. Akhirnya dengan motor trail yang saya pacu tibalah kami tepat di depan pondok kerja resor Mallawa. Suguhan pemandangan khas desa ini membuat saya selalu takjub saat bertandang.

Sambutan dari petugas resor tak kalah hangatnya. Sepertinya mereka sudah menunggu kedatangan kami. Tak lama kemudian kopi panas telah tersaji di atas meja. Kami pun bercengkrama, bercanda khas petugas lapangan.

Kunjungan saya kali ini dalam rangka menggali potensi desa untuk memperbaharui data buku profil daerah penyangga TN Bantimurung Bulusaraung yang telah disusun beberapa tahun silam.

Sore itu mereka baru kembali dari hutan. Melakukan patroli rutin di kawasan taman nasional. Kepala resornya memamerkan hasil temuan mereka. Bukan barang bukti temuan penebangan kayu ilegal atau perburuan satwa liar, melainkan pucuk daun dari pohon berkayu. Dengan semangat beliau menceritakan pucuk daun yang di dapatnya. Adalah Mustamin, Kepala Resor Mallawa. “Pucuk daun ini untuk dibuat sayur. Sayur ini sangat langka” kilahnya.

“Uruceng” adalah nama lokal pohon ini. begitu warga di Desa Samaenre menyebutnya. Pucuk daun pohon uruceng ini hanya bisa diperoleh sekali setahun. “Uruceng di desa ini banyak, cuman pucuknya tidak bersamaan keluar. Itupun satu pohon hanya setahun sekali saya perhatikan pucuknya keluar”. Ismail menambahkan, warga desa Samaenre yang saya temui.

Setelah diamati secara seksama oleh personil Pengendali Ekosistem Hutan resor ini, Andi Subhan. Beliau yakin bahwa pohon yang dimanfaatkan masyarakat di desa ini sebagai sayur termasuk dalam genus Ficus atau beringin. Hanya saja beliau belum bisa memastikan nama species atau jenisnya.  “Batangnya besar dengan akar gantung yang kekar. Dengan ciri khusus ini menunjukkan bahwa pohon ini termasuk bangsa beringin”.

Akar gantung yang dimiliki beringin berfungsi untuk menyerap atau menghirup uap air dan udara. Tak heran akar ini juga sering disebut akar nafas. Akar pohon ini juga kuat yang berfungsi menopang tubuhnya.

Beringin adalah tumbuhan kunci di TN Bantimurung Bulusaraung. Tak kurang dari 43 jenis beringin teridentifikasi di kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep ini.  beringin adalah pakan beberapa jenis burung termasuk rangkong (Rhyticeros cassidix), Kankareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus) dan juga temasuk salah satu makanan monyet hitam Sulawesi (Macaca maura).

Tak terasa malam pun tiba. Saat makan malam sayur warisan turun temurun desa ini kami nikmati. “Wah enak ya. Gurih. Seperti daun melinjo. Hanya lebih lembut lagi” sahut Amir, Polisi Kehutanan resor Mallawa, seolah tak percaya kalau pucuk beringin ini bisa dimakan.

Satu lagi menu baru yang kami dapati di salah satu desa penyangga taman nasional ini. menjadikannya khas. Kearifan lokal yang patut dipertahankan. Kenali, cintai, dan eksplor potensi hutan kita.

Sumber : Taufiq Ismail – PEH Taman Nasioanal Bantimurung Bulusaraung

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini