PEH Tana Bentarum Ramaikan Simposium dan Kongres Primata Indonesia Ke-5 di Yogjakarta

Yogyakarta, 18 September 2019. Simposium dan Kongres Primata Indonesia dilaksanakan di kota Yogjakarta selama 3 hari dimulai tanggal 18 – 20 September 2019. Mengusung tema Primata Indonesia, identitas global dan tantangan masa kini, menghadirkan banyak pakar dan peneliti yang memiliki kualitas ke-ilmuan dan wawasan yang luas tentang dunia jenis primata.

Kegiatan ini diihadiri oleh 188 peserta pendaftaran yang lolos dan terdiri dari 80 % para peserta presentasi oral dan 20 % presentasi poster. Total yang hadir dalam acara sebanyak 280 orang termasuk tamu undangan dan sukarelawan, baik yang berasal dari kalangan para paraktisi, unsur akademisi, unsur pemerintah, maupun non pemerintah. Pada kongres primata kali ini juga dihadiri sebanyak 5 utusan dari negara-negara asing.

Simposium yang dibahas dalam acara kongres primata ke-5 di Jogjakarta adalah simposium Owa Indonesia, simposium Primata Walaceae, simposium Bekantan dan simposium Orangutan Indonesia. Sedangkan topik utama dalam kongres primata kali ini sebanyak 5 buah topik, yaitu : Penelitian, Ekologi dan Konservasi Primata Indonesia, Rehabilitasi, Reintroduksi dan Restorasi Habitat Primata, Implikasi Konservasi dan Perdagangan Primata di Indonesia, Peran Biomedikan dan Biomolekular dalm Konservasi Primata Indonesia, dan Pendekatan Landskap dan Inisiasi Inovasi Konservasi Primata Indonesia.

Bertepat di  University Club Universitas Gadjah Mada (UC-UGM) Jogjakarta, simposium dan kongres Primata Indonesia dibuka langsung oleh Ir. Wiratno, M.Sc (Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), sekaligus sebagai pembicara utama. Dalam Opening turut juga hadir Chairul Saleh sebagai Ketua PERHAPPI (Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia). Di sela-sela sambutannya Dirjen KSDAE menyampaikan arahan dan seruan kepada para pihak khususnya para pemerhati satwa liar agar bisa melakukan pendekatan inovasi-inovasi untuk menyelamatkan satwa liar kita, pungkasnya.

Dalam acara serimoni pembukaan acara juga ditayangkan sejenak video beberapa satwa liar menjadi korban mati dan cacat akibat ulah manusia dari mulai memburu dengan cara menembak sampai dengan pemasangan jerat. Kemeriahan acara semakin semarak dengan tampilnya pertunjukan 2 tarian tradisional Mentawai, yang dibawakan oleh kelompok anak-anak dari Siberut Selatan dengan tema tarian Owa Mentawai yang mencari air untuk minum dan mandi, serta tarian Burung Elang.

Prof. Dr. Jatna Supriatna dari Universitas Indonesia yng juga turut berpartisipasi dalam acara sebagai pembicara utama yang membahas tema dampak sosial ekonomi konservasi primata Indonesia, dan Rusyad Adi Suriyanto, M.Hum ahli Ditribution and Diversity of Paleoprimate in Indonesia. Selain itu juga hadir para pembicara undangan yang turut menyemarakan kongres primata Indonesia ke-5 di kota pelajar ini. Tak terkecuali perwakilan dari Pejabat Fungsional PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) yang berasal dari UPT Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), ikut serta meramaikan sebagai pembicara dalam acara simposium dan kongres primata Indonesia ke-5 di Jogjakarta.

Tercatat untuk bisa hadir sebagai pembicara dalam acara para peserta sebelumnya harus melewati beberapa tahapan seleksi. Tahap seleksi pertama dimulai dengan membuat sebuah abstrak jurnal penelitian tentang primata yang dikirimkan pada panitia. Tahap selanjutnya jika peserta lolos abstrak maka diwajibkan membuat paper secara utuh dan menyiapkan bahan paparan pada saat audensi.

Sebanyak 2 paper dan abstrak dari tema yang dibuat dan diusulkan oleh perwakilan PEH Tana Bentarum dalam acara simposium dan kongres primata indonesia tahun 2019. Tema pertama terkait dengan Eksplorasi Presbytis chrysomelas ssp. cruciger (Thomas, 1892) di Bukit Semujan, TN. Danau Sentarum (Aripin, Syarief M. Ridwan, Ardi Andono, Arief Mahmud). Sedangkan tema kedua adalah Peluang Pembangunan Sanctuary Orangutan di Lokasi Pembangunan Jalan Paralel Perbatasan di Kawasan TN. Betung Kerihun (Syarif M. Ridwan, Aripin, Ardi Andono & Arief Mahmud).

Keterlibatan PEH TaNa Bentarum dalam setiap event seminar nasional maupun internasional tentang permasalahan konservasi yang membawa tema satwa maupun tumbuhan sangat penting dan bernilai manfaat. Sesuai dengan arahan Kepala Balai Besar TNBKDS, Ir. Arief mahmud, M.Si bahwa ini semua sebagai bahan menimba ilmu, pengetahuan dan wawasan tentang dunia konservasi dari pakar-pakar yang hadir dalam acara. Selain itu, moment ini dapat dijadikan bahan latihan modal kedepan bagi fungsional PEH dalam mengikuti acara-acara yang sama dikemudian hari.

Sumber : Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)

 

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini