Konflik Antara Satwa dan Manusia, Berujung Pada Kematian Satwa

Jambi, 10 Agustus 2019 - Sudah selama satu minggu masyarakat Desa Lubuk Benteng merasa diresahkan oleh kemunculan buaya di aliran Sungai Batanghari Desa Lubuk Benteng. Beberapa penyebab seringnya kemunculan satwa tersebut salah satunya adalah musim kemarau yang sedang melanda sehingga debit air di Sungai Batanghari pun berkurang, selain dari ukuran satwa buaya tersebut yang cukup besar. Keberadaan buaya tersebut dianggap mengganggu aktivitas warga baik mencari nafkah maupun untuk mandi di sungai. Sebagian besar warga di lokasi masih menggunakan sungai sebagai sarana mandi,cuci,kakus (MCK). Berdasarkan pengakuan dari masyarakat, sebelum buaya tersebut ditangkap buaya tersebut pernah menggigit seorang warga desa sehingga mengakibatkan luka pada lengan sebelah kanan. Berdasarkan kejadian tersebut warga mulai resah dan melakukan pengintaian untuk menangkap buaya tersebut hingga akhirnya buaya bisa didapatkan.

Balai KSDA Jambi mendapatkan informasi yang diterima dari call center bahwasanya ada seekor buaya jenis sinyulong (Tomistoma Schlegeli) yang ditangkap oleh masyarakat di Desa Lubuk Benteng, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo. Buaya Sinyulong tersebut kurang lebih memiliki panjang sekitar 6 meter dan berat antara 150 – 250 kg. Kasus Buaya Sinyulong menyerang manusia baru kali ini tejadi. Buaya Sinyulong dikenal jarang sekali menyerang apalagi memangsa manusia, Buaya Sinyulong biasanya memangsa jenis ikan sungai sebagai pakannya. Pada tanggal 11 Agustus tim Balai KSDA berkoordinasi dengan Polsek Tebo Ulu mendatangi lokasi dan mendapati satwa buaya tersebut sudah dalam keadaan mati berada di tebing sungai dan dikubur bersama oleh petugas dan disaksikan oleh masyarakat. Petugas menemukan banyak bagian satwa yang hilang diantaranya gigi, kulit, kuku kaki depan dan belakang, dan bagian ujung ekor. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengungkapkan “Untuk kedepannya kami akan lakukan sosialisasi terkait satwa buaya di tempat tersebut dan akan memasang papan informasi atau papan larangan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi”.

Sumber: Balai KSDA Jambi

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini