Pertanian Sehat Desa Penyangga Jaga Ekosistem Gunung Ciremai

Kuningan, 8 Januari 2018. Bertempat di De Jehans Boutique Hotel, Senin, 7 Januari 2019, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mengundang para pihak dalam "Workshop" dan Sosialisasi Pengembangan Pertanian Sehat Desa-Desa Penyangga. TNGC sebagai sebuah kawasan pelestarian alam diperuntukan untuk memberi manfaat bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang dapat dinikmati secara berkelanjutan jika kelestarian ekosistem kawasan hutan gunung Ciremai tetap terjaga.

Ternyata kelestarian dan kesehatan ekosistem hutan gunung Ciremai tidak hanya dipengaruhi oleh aktifitas makhluk hidup di dalam hutan. Namun juga perilaku dari masyarakat yang berada di wilayah penyangga kawasan yang mayoritas mata pencahariannya dari aktifitas pertanian dan perkebunan.

Hasil produksi pertanian dan perkebunan yang berlimpah merupakan tujuan utama yang diwujudkan dengan berbagai usaha. Salah satunya penggunaan bahan-bahan kimia buatan dalam bentuk pupuk, "insektisida" dan "fungisida". Terkadang bahan-bahan tersebut digunakan dalam jumlah melebihi kadarnya dan berpotensi mencemari lingkungan, termasuk kawasan TNGC yang hampir seluruh wilayahnya berbatasan langsung dengan lahan pertanian dan perkebunan.

Pertanian sehat, sebuah "role model" dari TNGC yang digagas bukan oleh sebuah lembaga pertanian. Namun berfalsafah bagaimana sumber daya alam hayati yang ada di TNGC dapat dieksplorasi, diteliti, serta diaplikasikan dalam pertanian atau perkebunan yang sehat dan alami untuk menjaga kesehatan ekosistem. Nah kesehatan ekosistem dapat menjaga manfaat yang sehat bagi masyarakat sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan peningkatan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Sambutan Kepala Balai TNGC perihal hubungan pertanian sehat mendukung kesehatan eksosistem TNGC membuka
"Workshop dan sosialisasi pertanian sehat dihadiri Puja Utama, Kepala Sub Direktorat Pengawetan Jenis, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, perwakilan Direktorat Jenderal KSDAE dengan "stakeholder" lain Pemerintah Daerah kabupaten Kuningan dan Majalengka, akademisi perguruan tinggi Kuningan, Majalengka dan Cirebon, kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat setempat.

"Workshop" juga dihadiri T.O. Suprapto, pembina Joglo Tani Yogyakarta yang gaung keberhasilannya sebagai guru tani tidak hanya di Indonesia tapi juga mancanegara. Kehadiran beliau semakin menambah bobot dari acara itu dalam menjadikan pertanian sehat sebagai salah satu solusi meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kesehatan ekosistem gunung Ciremai.

Falsafah pertanian sehat disampaikan oleh Padmo Wiyoso, penggagas "Role Model" Pertanian Sehat TNGC, dilanjutkan pemaparan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam mendukung falsafah tersebut oleh Idin Abidin, Pengendali Ekosistem Hutan.

Pandangan kerangka ilmiah dalam membangun pertanian sehat dari taman nasional dan pengembangannya di masa depan dipaparkan oleh Suryo Wiyono, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Beliau menjelaskan bahwa produksi hasil pertanian dapat maksimal dan berkelanjutan jika didukung lingkungan yang sehat.

Ekosistem sehat tercipta dari pola kehidupan kita yang ramah terhadap lingkungan salah satunya lewat pertanian sehat. Mari kita kurangi dan tinggalkan penggunaan pupuk kimia buatan yang menimbulkan permasalahan lingkungan demi manfaat lebih besar di masa depan [Teks © Robi, Foto © Koezky & Adit-BTNGC| 012019].

Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini