Memadukan Religi, Budaya dan Konservasi : Belajar Konservasi dari Desa Penyangga TN Bromo Tengger Semeru

Konservasi seringkali dianggap sebagai upaya ‘eksclusive’ sekelompok orang untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistem (SDAHE) sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan yang baku. Berbagai teori dan aturan tentang konservasi dibuat dan diimplementasikan dengan ‘kaku’ sehingga seringkali menimbulkan benturan antara kepentingan pembangunan dengan konservasi SDAHE  maupun antara konservasi dengan budaya/ adat istiadat yang berkembang di masyarakat.

Jika saja kita mau sejenak blusukan ke  berbagai pelosok negeri ini, sebenarnya praktek-praktek upaya pelestarian alam telah ada dan berkembangan di masyarakat baik itu dalam bentuk kearifan lokal adat dan budaya setempat maupun dalam bentuk inisiasi dan inovasi para pahlawan-pahlawan konservasi di daerah. Salah satu contoh yang inisiasi dan inovasi upaya konservasi SDAH yang digagas konservasionis lokal adalah kegiatan yang dinamai Lembar Dakwah Konservasi.

Nun jauh di pelosok Malang, tepatnya di Dusun Bendrong, Desa Argosari, Kecamatan Jabung Kabupaten Malang (Desa Penyangga Resort PTN Jabung TNBTS) terdapat sekelompok masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian kawasan hutan yang ada di sekitarnya, mereka tergabung dalam kelompok tani Usaha Maju II. Kelompok yang diketuasi oleh seorang ustadz yang bersahaja bernama M. Slamet ini telah mengukir sederet prestasi di tingkat nasional atas usahanya menyelamatlkan hutan melalui program-program penyediaan energi alternatif berupa biogas bagi masyarakat di desanya sehingga ketergantungan masyarakat terhadap kayu bakar dari dalam kawasan hutann menurun. Tidak kurang penghargaan nasional sekelas Kalpataru, Proklim serta prakarsa energi berhasil disabet, belum lagi penghargaan-penghargaan di tingkat kabupaten Malang dan Provinsi Jawa Timur. Tidak hanya menjadi jujugan studi banding bagi para pihak yang ingin belajar tentang pemanfaatan limbah ternak sebagai biogas, kelompok ini bahkan mendapat kunjungan dari delegasi Iran yang tertarik dengen keberhasilan kelompok dalam pengembangan energi alternatif.

Selain memprakarsai penggunaan energi alternatif berupa biogas, inisasi dan inovasi upaya konservasi dilakukan kelompok Tani Usaha Maju II bekerjasama dengan himpunan masyarakat pemanfaat air (HIPPAM) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Tholibin dengan menggelar acara Lembar Dakwah Konservasi (LDK). Perpaduan religi, budaya dan konservasi kental mewarnai acara yang sudah beberapa kali digelar di Dusun Bendrong ini. Dalam acara LDK pada tanggal 9 Desember 2017 misalnya, kelompok musik hadrah “MURAH BANYU” dari Desa Poncokusumo  tampil mengiringi jalannya acara dengan iringan musik gamelan modern dengan lagu-lagu religi yang mengajak masyarakat untuk beribadah sekaligus menjaga kelestarian alam.  Acara yang digelar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus merayakan kelulusan para santri MI Raudhatul Tholibin ini terbilang cukup unik karena mengusung konsep dakwah konservasi. Dengan tagline “Hutan Terjaga, Air Selalu Ada” para tokoh masyarakat lokal menyampaikan pesan-pesan pelestarian hutan dengan bahasa sederhana dirangkai dengan dakwah yang mengajak masyarakat sebagai khalifatullah untuk menjalankan perintah Allah. Tak ketinggalan operet dan tembang-tembang puji-pujian terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW dilantunkan para santri cilik dengan diiringi grup musik MURAH BANYU yang ternyata anggotanya adalah para pengurus HIPPAN Desa Poncokusumo. Suatu “kebetulan” yang menunjukkan Kekuasaan Allah SWT.

Rangkaian acara semakin berkesan ketika panitia membagikan puluhan hadiah yang diundi bagi para pengguna air yang telah berpartisipasi dalam konservasi air dengan rutin dan rajin membayar iuran. Menariknya semua hadiah disediakan secara mandiri oleh HIPPAM dengan menyisihkan iuran pembayaran air yang disetor para pelanggan, tanpa uluran bantuan pemerintah maupun sponsorship. Pemanfaatan air oleh masyarakat Dusun kecil di tepi hutan ini terbukti telah dilakukan dengan pengelolaan  yang baik oleh HIPPAM dengan adanya pipanisasi dan penggunaan meteran sehingga masyarakat lebih terukur dan hemat dalam memanfaatkan air. Pembayaran yang dilakukan oleh pemanfaat air pun tidak hanya digunakan untuk operasional pemeliharaan jaringan pipa dan sarpras lainya namun juga dikembalikan ke alam untuk penanaman di daerah hulu serta dikembalikan ke para pengguna dalam bentuk hadiah yang dibagikan setiap tahun.

Proses menuju kemandirian dan kepedulian ini memang bukan sebuah proses instant, butuh perjalanan waktu yang cukup panjang. Berawal dari terpilihnya 5 Desa di Kabupaten Malang sebagai lokasi Sekolah Lapangan Konservasi yang diselenggarakan oleh program jasa lingkungan, Environment Service Program (ESP) USAID pada tahun 2008 - 2010 yang didalamnya termasuk Desa Argosari, Kecamatan Jabung. Dilanjutkan dengan Program kampanye Bangga Melestarikan Alam oleh RARE dan Lembaga Paramitra Jawa Timur pada tahun 2008. Para relawan dari Desa Argosari ini belajar bagaimana mengenali permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya kemudian mencoba merumuskan apa solusinya dan ditindaklanjuti dengan melaksanakan rencana aksi yang telah mereka susun bersama melalui berbagai forum diskusi kelompok terfokus, musyawarah dan pendampingan dari para fasilitator baik dari petugas kehutanan (PERHUTANI dan TNBTS) maupun LSM.

Jargon –jargon konservasi sederhana  pun dirumuskan melalui diskusi panjang yang melibatkan semua pihak sehingga lahirlah apa yang disebut “ Hutan Terjaga, Air Selalu Ada” dan “lek alase kethel, petanine gelek nethel” ( Jika hutan lebat, petani pun akan sering membuat tetel, sejenis makanan yang melambangkan kesejahteraan).

Sungguh sebuah pelajaran penting tentang kemandirian  dan kepedulian yang menginspirasi ...

... Kepedulian adalah esensi konservasi alam semesta.. Dr. George B. Rabb

Sumber : Novita Kusuma Wardani - Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini