Peran Naturalis Guide untuk Wisata dan Konservasi di TN Komodo

Labuan Bajo - Alam kawasan TN komodo menyajikan obyek dan daya tarik wisata yang memikat setiap pengunjung. Daya tarik utama kawasan ini adalah satwa komodo, berbagai jenis burung, mamalia dan reptil, keanekaragaman hayati laut dan panorama alam Nusa Tenggara yang kering.

Pada lokasi tujuan wisata daratan Loh Liang (Pulau Komodo) dan Loh Buaya (Pulau Rinca), pengunjung wajib ditemani oleh naturalis guide yang akan mendampingi dan menginterpretasikan obyek dan daya tarik wisata di kawasan TN  komodo. Kemampuan dan cara interpretasi alam yang baik dan profesional merupakan bagian dari pelayanan pengunjung di kawasan TN komodo.  

Untuk meningkatkan kapasitas para interpreter ini maka Balai TN Komodo melakukan pelatihan peningkatan kapasitas kelompok binaan naturalist guide yang dilaksanakan melalui dua periode pelatihan yaitu tanggal 19-21 September 2017 dan 2 – 4 Oktober 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 61 peserta yang bekerja di dua lokasi wisata, Loh Liang dan Loh Buaya.

Materi pelatihan yang diberikan yaitu informasi flora dan fauna kawasan TN Komodo dan interaksi manusia dan satwa liar yang disampaikan oleh staf PEH Balai TN Komodo. Sebagai interpreter, naturalist guide diharapkan memiliki kemampuan dan kapasitas mengenal potensi sumberdaya alam hayati di lokasi wisata. Dalam berinteraksi dengan satwa liar, para wisatawan dan guide menerapkan prinsip menghargai satwa liar (respect wildlife). “Demi kepuasan pengunjung, tidak diperbolehkan mengganggu kenyamanan satwa seperti memaksa mereka bergerak atau memindahkan satwa dari habitatnya ke tempat yang akan terlihat oleh pengunjung” demikian penjelasan Maria Panggur, Staf PEH TN Komodo. Para naturalist guide juga memiliki kewajiban menegur pengunjung atau pelaku usaha agar tidak memberi makan kepada satwa liar di dalam kawasan terutama monyet di site Loh Buaya.

Penelitian tentang Bioekologi Komodo tergolong terlambat dimulai jika dibandingkan dengan penelitian satwa liar populer lainnya di Indonesia. Sehingga beberapa informasi mengenai satwa komodo masih sangat terbatas. Hal ini disadari oleh peneliti dari Yayasan Komodo Survival Program (KSP) yang telah mendedikasikan waktu selama lebih dari 10 tahun meneliti satwa komodo di alam. “Jika pertanyaan pengunjung tentang komodo tidak diketahui atau sulit terjawab bukan berarti anda adalah naturalist guide yang buruk karena pada kenyataannya penelitian kita masih sangat terbatas tentang satwa ini” demikian disampaikan oleh Achmad Ariefandy dari KSP. Menurutnya semakin banyak pertanyaan, semakin terbuka peluang penelitian tentang komodo.

Pada kesempatan ini, tim KSP membagikan booklet Panduan Lapangan Biawak Komodo/ Komodo Dragon Field Guide, yang berisi informasi tentang taksonomi dan status konservasi komodo, morfologi komodo, wilayah sebaran komodo, siklus hidup serta fakta-fakta menarik lainnya tentang satwa ikonik TN Komodo tersebut. Buku panduan ini merupakan kompilasi penelitian-penelitian tentang komodo yang pernah dilakukan baik di Taman Nasional Komodo maupun di wilayah sebaran komodo lainnya yaitu Flores Barat dan Utara.

Selain obyek dan daya tarik wisata di daratan, TN Komodo menyimpan potensi keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Wisata bahari di TNK dinobatkan sebagai World’s Best Snorkling Destination oleh Survei CNN, 2015. Daya tarik utama perarian TN Komodo adalah pari manta dan hiu. Sedangkan daya tarik dugong dan paus belum terlalu tergali. Seperti halnya di daratan, para naturalis guide di TN Komodo wajib memiliki pengetahuan tentang alam bawah laut, potensi serta etika berwisata di bawah air. Dengan potensi wisata yang tinggi tersebut, maka naturalis guide juga memiliki peluang besar untuk menjadi pemandu wisata bahari. Materi tersebut disampaikan oleh WWF Indonesia-Program Komodo.

Adanya target wisatawan yang sangat tinggi, 500.000 kunjungan per tahun, kemungkinan membawa dampak negatif bagi lingkungan laut. Dampak-dampak buruk bila aktivitas wisata tidak dikelola dengan baik yaitu kecelakaan/ cedera langsung, perubahan sebaran satwa, perubahan perilaku satwa, penurunan kualitas habitat satwa dan stress pada satwa.

“Naturalist Guide adalah ujung tombak pengontrol perilaku wisata yang tidak bertanggungjawab. Dan hal tersebut penting mengingat alam yang terjaga adalah modal dalam kegiatan wisata di TN Komodo” ungkap Jensy Sartin, staf WWF.

Etika saat pengamatan satwa laut yaitu menjaga jarak pengamatan maksimal (3 m untuk hiu dan pari manta, 40 – 100 m untuk dugong, 100 m untuk lumba-lumba dan paus), selalu awas dengan keadaan sekitar, hindari gerakan mendadak, berhati-hati saat turun ke air, tidak menyentuh satwa, tidak mengejar satwa, tidak menggunakan cahaya kamera berlebihan dan menjaga posisi dan daya apung berada di dasar perairan sehingga memberi ruang bagi satwa untuk bergerak. Khusus untuk satwa dugong, pengamatan sebaiknya dilakukan dari atas kapal, tidak membuat suara bising mengingat satwa ini sangat sensitif dengan gangguan. Selain materi, WWF juga membagikan booklet panduan interaksi dengan satwa laut yang dapat dipelajari oleh peserta.

Materi terakhir dalam kegian ini adalah tatacara dan etika guiding oleh pemateri dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI Cabang Labuan Bajo). Upaya perbaikan pelayanan naturalis guide kepada pengunjung TN tidak terlepas dari pemahaman mendasar tentang prinsip pemanduan / Guiding. Seorang pemandu memiliki tugas utama sebagai penghubung wisatawan dengan pusat-pusat ikon destinasi dan khazanah budaya lokal. “Selain memandu wisatawan, profesi guide berperan strategis bagi kemajuan industri pariwisata lokal dan nasional” demikian disampaikan oleh Sebastian, pemateri dari HPI. Selain etika, seorang guide harus memahami informasi yang diberikan dimana informasi tersebut harus menarik (interesting), berkelanjutan (continuity) dan terbaru (updated).

Di akhir pelatihan, peserta melakukan simulasi atas materi yang telah diberikan. Penilaian terhadap hasil simulasi dilakukan oleh semua pemberi materi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengunjung TN Komodo.

Sumber: Balai TN Komodo

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini