Empat Tahun Membangun TN. Aketajawe Lolobata, Beginilah Profil “Sang Juara”

Hobinya adalah olahraga. Badminton, tenis meja dan masuk ruang fitnes adalah kegiatan rutin diluar kantor. Beladiri atau pencak silat merupakan kegemaran utama Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ke-3 ini. Beragam teknik diajarkan, diturunkan kepada anak buahnya, pegawai TNAL, terutama anggota Polisi Kehutanan. Tak perduli dimana tempat latihannya, mau dihutan ataupun di halaman kantor.

Kepala Balai yang memiliki nama lengkap Sadtata Noor Adirahmanta ini, mengawali karier promosi pertama tahun 2013 sebagai Kepala Balai di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Pertama kali Beliau menginjakkan kaki di kantor TNAL di Sofifi beliau merasa bersyukur dan optimis akan membawa TNAL ke jalur yang lebih besar. Berbekal impian yang besar, keinginan yang gigih dan melihat potensi pegawai TNAL yang masih muda, Pak Tata (panggilan akrab Kepala Balai) makin yakin dengan program-progam yang akan dijalankannya kelak.

“Kalian jangan takut dalam bermimpi, pertama kali pesawat diciptakan juga berawal dari mimpi tentang manusia ingin terbang” motivasi awal dari Pak Tata kepada pegawainya di TNAL.

Banyak kegiatan yang merupakan bukti konkrit dari program beliau. Mulai dari kelengkapan suatu dokumen perencanaan suatu taman nasional. Dokumen Desain Tapak, dokumen Master Plan Wisata Alam sampai dokumen Site Plan Wisata Alam telah dibuat bahkan yang pertama presentasi ditingkat Pusat. Mempromosikan keberadaan taman nasional yang dulu banyak orang mengeja saja kesulitan hingga banyak tawaran kerjasama bahkan meningkatnya kunjunjungan wisatawan melalui pameran dan media sosial sesuai instruksi beliau.

Untuk internal kantor sendiri, Pak Tata yang melihat banyak potensi para pegawainya tidak segan-segan mengangkat, membimbing dan mengajak pegawainya bersaing dalam segala bidang. Terbukti, berbagai penghargaan tingkat instansi maupun prestasi individu pegawai sudah diraih oleh keluarga besar TNAL. Sebut saja penghargaan TNAL sebagai salah satu perencana terbaik, pengelola BMN terbaik, juara lomba video drone terbaik, juara booth pameran terbaik dan lain sebagainya.

Menyikapi hal tersebut, Pak Tata kembali memberikan motivasi bahwa “Pemimpin yang juara pasti melahirkan para juara”.

“Kalian adalah sebuah ferrari yang memiliki kecepatan 200 km/jam dan bukan mobil lain yang kecepatannya lebih lambat, jadi tunjukan bahwa kalian itu ferrari”, kata-kata Pak Tata yang tidak mungkin terlupakan dalam ingatan anak buahnya.

Disisi lainnya, program unggulan yang didedikasikan untuk Maluku Utara, untuk melindungi salah satu keanekaragaman hayatinya dibuatlah bangunan yang akan menjadi tujuan orang mengunjungi Maluku Utara. Bangunan itu adalah Suaka Burung Paruh Bengkok (SBP). Program yang juga berawal dari mimpi besar, keprihatinan dan rasa cinta tanah air yang besar dimana banyak data yang menunjukkan bahwa burung paruh bengkok di Maluku Utara diperjual belikan bebas didalam negeri maupun diluar negeri. Bahkan ada yang berusaha mendapatkan sertifikat internasional terkait status asal burung tersebut. Dengan bangunan SBP yang akhirnya diakui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai salah satu role model dan dukungan dari pemerintah daerah setempat, maka keberadaan burung paruh bengkok bisa tetap terjaga di Maluku Utara. “Karena akhir dari pengelolaan kawasan konservasi adalah pengelolaan yang paripurna, yang berbasis masyarakat, yang sudah dikelola sendiri oleh masyarakat dengan lestari”, kata Pak Tata.

Tidak sedikit tantangan dan ide-ide besar di Taman Nasional Aketajawe Lolobata dipecahkan dan dicetuskan dalam acara “ngopi bareng” di kafe ataupun di gedung olah raga. Setiap kali menemukan hambatan ataupun tantangan baru, beliau selalu berimprovisasi dan memiliki keputusan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh anggota “Ngopi” lainnya. Itulah salah satu keakraban yang ditunjukkan Kepala Balai kepada para pegawainya. Selain membicarakan pekerjaan juga membicarakan tentang hal-hal yang ringan, contohnya batu bacan. Karena Pak Tata juga hobi mengoleksi cincin dari berbagai daerah.

“Saya tahu kondisinya, sekali lagi Apa Boleh Buat, Hajar Bleh”, satu lagi prinsip, moto, motivasi dari Pak Tata yang tidak akan pernah terlupakan dari kenangan para pegawainya.

Kedekatan dan keakraban antara seorang pimpinan dengan anak buahnya terlihat bagaikan tidak ada jarak. Karena siapapun yang mengenal Pak Tata akan langsung akrab dan segan. Bapak yang sederhana ini telah berhasil menaikkan pamor dan level instansi serta para pegawainya. Beberapa kali Beliau mengajak keluarga tercintanya berlibur mengunjungi TNAL. Disini semua anggota keluarga disambut dengan baik dan menjadi keluarga besar TNAL.

Sekarang, Pak Tata telah mendapatkan amanah baru dalam kariernya. Saatnya pula Pak Tata membangun impian baru ditempat yang baru. Taman Nasional Aketajawe Lolobata sudah berada dipuncak dalam level pengenalan, karena pesan Pak Tata kepada pegawainya bahwa “Level ini sudah kalian lalui, saatnya kalian ke level selanjutnya, pengelolaan taman nasional yang siap bekerja sama, melibatkan mitra-mitra ataupun masyarakat”.

Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini