Konservasi Rangkong di India, Sebuah Pembelajaran Untuk Indonesia

Putussibau, 13 September 2017. Berpijak kepada semangat untuk meningkatkan aksi konservasi rangkong di Indonesia, Rangkong Indonesia mengundang Nature Conservation Foundation (NCF) dari India yang telah melakukan beragam aksi konservasi rangkong di India selama lebih dari 10 tahun untuk berbagi pengalaman dengan pegawai Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum.

Pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk aksi konservasi di Indonesia. Kegiatan yang bertajuk "Knowledge Sharing-Konservasi Rangkong di India, sebuah pembelajaran untuk Indonesia” diselenggarakan di Situation Room Kantor Balai Besar TNBKDS pada tanggal 13 September 2017 yang dihadiri oleh seluruh pejabat fungsional PEH, Polhut, dan Penyuluh serta melibatkan para pejabat struktural lingkup TNBKDS.

Kegiatan ini sebagai ajang untuk bertukar pikiran mengenai aksi konservasi rangkong di Indonesia, Kalimantan Barat khususnya di TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum dengan pengalaman aksi konservasi yang dilakukan di India oleh NCF.

Kepala Balai Besar TNBKDS, Arief Mahmud, pada sambutannya menyambut baik inisiatif dari Rangkong Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam monitoring rangkong baik metode maupun pembelajaran dari penelitian yang telah dilaksanakan di India. Mengingat kesamaan lansekapnya, maka diharapkan pembelajaran ini bisa juga diterapkan di Indonesia.

Dalam pertemuan ini pihak BBTNBKDS diwakili oleh Ahmad Rindoan, S.Hut (PEH) mempresentasikan kondisi dan status rangkong di kawasan TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum. Diuraikan bahwa terdapat 8 dari 13 jenis Rangkong di Indonesia dapat ditemui di kawasan TNBK dan TNDS.

Sebagai bagian dari mandat pengelolaan taman nasional, monitoring spesies Rangkong terus dilakukan periodik dari tahun ke tahun. Rangkong Badak (Bucheros rhinoceros) merupakan jenis yang paling banyak ditemui. Selain monitoring, kegiatan lainnya yang telah dilakukan adalah menetapkan site monitoring, kampanye penyelamatan Rangkong, perlindungan dan pengawetan habitat serta penguatan hukum adat dan kearifan lokal.

Selanjutnya Mr. Rohit Shriram Naniwadekar dari NCF mempresentasikan hasil-hasil kegiatan di Arunachal Pradesh, India meneliti 5 jenis Rangkong untuk mengetahui sebaran dan kepadatannya. Ada 3 site monitoring dengan cakupan sepanjang lebih dari 470 km. Berbagai metode dapat dilakukan, diantaranya plot sampling dengan transek maupun wawancara kepada masyarakat sekitar plot/grid untuk mendeteksi keberadaan dan okupansi rangkong. Hasil penelitian menemukan bahwa populasi rangkong di India menurun drastis dalam 20 tahun terakhir. Untuk menguranginya bisa menggunakan cara-cara nest adoption dengan memberdayakan mantan pemburu untuk ikut monitoring rangkong. di Sisi itu, penelitian Mrs. Aparajita Datta selama 20 tahun menemukan bahwa 70% tumbuhan disebarkan oleh binatang termasuk rangkong serta 85% pohon sarang adalah Tetrameles nudiflora. karakteristik sarang, jenis makanan, predator pengganggu, ancaman serta tingkah laku/sifat berbagai jenis rangkong juga diteliti.

Hutan di Indonesia merupakan habitat dari 13 jenis rangkong, tiga diantaranya bersifat endemik, menjadikan Indonesia negara terpenting untuk konservasi rangkong di Asia. Mengingat fungsi ekologisnya yang sangat penting, semua jenis rangkong yang ada di Indonesia dilindungi oleh pemerintah dan memasukan kelompok rangkong sebagai satwa yang memiliki prioritas sangat tinggi untuk kelompok burung yang harus mendapatkan perhatian karena habitatnya yang semakin menyempit dan menurunkan kesempatan bersarang.

Status perlindungan dan konservasi rangkong serta nilai penting budaya yang dimilikinya tidak lantas menjadikan kondisi populasinya di alam menjadi lebih baik. Setiap tahunnya habitat rangkong berupa hutan tropis di Indonesia terus berkurang. Kondisi ini diperburuk dengan perburuan yang terus meningkat, suatu ancaman yang luput dari Arahan Strategis Konservasi Species Nasional. Dengan kegiatan Knowledge Sharing ini, diharapkan aksi konservasi rangkong di Indonesia semakin massif dan meningkatkan awareness terhadap keberadaan Rangkong (zm).

Sumber Info : Zainal Muttaqien, S.Hut., M.Ec.Dev., M.Sc - Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Komentar

Login terlebih dahulu bila ingin memberikan komentar.

Login

Belum terdapat komentar pada berita ini